Selamat datang di SlendangWetan Institut, Blognya orang yang "sadar diri" !

7.11.2011

Thariq Bin Ziyad Sang Motivator Perang

Masa keemasan Islam antara lain ditandai dengan keberhasilan prajurit-prajurit Muslim menaklukkan wilayah Andalusia, yang kini dikenal sebagai negeri Spanyol. Berkat jasa seorang panglima gagah berani hingga Islam dapat bercokol di sana selama beberapa tahun. Nama pejuang Islam ini begitu harum. Bahkan karena keberanian dan kepahlawanannya, hingga diabadikan untuk sebuah semenanjung bukit karang setinggi 425 m di pantai tenggara Spanyol, Gibraltar atau Jabal Tariq. Nama panglima Muslim itu adalah Tariq bin Ziyad. Kisah itu begitu melegenda meski telah berlalu sekitar 1400 tahun lalu. Di sebuah tepian pantai Spanyol, seorang laki-laki gagah berteriak lantang. Suaranya menggelegar, mengalahkan deburan ombak laut.
Senin, 3 Mei 711 M, Thariq seorang panglima pasukan muslim, dengan membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki. Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.
Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”. Lalu Thariq melanjutkan pidatonya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.
Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit. Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita. Kita harus bahu membahu.
Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya. Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Kisah seorang panglima perang yang memimpin pasukannya dengan gagah perkasa. Pemimpin yang tahu akan kondisi yang dipimpinya, sehingga tidak hanya memimpin dengan model otoriter (karena kekuasaannya), tapi dimuati dengan motivasi, dorongan semangat, dan memberi sebuah pilihan yang tidak bisa di tolak oleh pasukannya, yaitu maju mengahadapi musuh yang begitu banyak dengan resiko mati syahid atau mundur menyeberangi lautan dengan cara berenang dengan resiko tenggelam dan mati konyol. Maka, lebih baik maju melawan musuh mati, namun mati syahid mendapatkan ridho-Nya, sedangkan janji Allah tentulah pasti. Allah akan member syurga yang tak pernah bisa dibayangkan oleh manusia. Atau mundur, mati, tapi mati sia-sia. Inilah sekilas cerita panglima Thariq bin Ziyad, semoga kita dapat mengambil pelajaran didalamnya ketika kita diamanahi sebagai pemimpin, baik memimpin keluarga, perusahaan, dan juga memimpin diri sendiri kita harus tahu siapa atau apa yang dialami anak buah kita/orang yang kita pimpin. Sehingga kita bisa memperlakukan mereka dengan baik dan bijak. Wallahu’alam bishawab (dari berbagai sumber)

2.10.2010

Yaumul Marhamah (hari kasih sayang) (SlendangWetan)


Sebentar lagi tanggal 14 Februari bagi mereka baik dari kalangan remaja maupun dewasa merupakan hari dan bulan yang special, karena bagi mereka bulan ini adalah bulan kasih sayang atau sering disebut valentine's day. Di mana para pasangan muda-mudi saling berbagi kasih sayang (sayang kebablasan), ini tidak lepas dari pengaruh budaya Barat yang membawa tradisi atau budaya baru bagi kita orang Timur yang pada dasarnya menjunjung tinggi toto kromo atau sopan santun.

Sayangnya sikap sopan santun, menjaga etika atau yang lainnya terkait budaya orang Timur kini telah memudar seiring berkembangnya zaman. Maka dari sinilah terjadi 'penodaan' nilai dari kasih sayang tersebut. Tidak sedikit dari mereka merayakan hari kasih sayang (valentine's day) dengan berhubungan badan layaknya suami-istri (makanya banyak orang tua-tua bilang termasuk salah satu dosen saya kalu bulan februari adalah bulan hilangnya perawan-perawan. mungkin pernah kali ? he...he...) makanya banyak para ustadz atau orang yang menjunjung tinggi nilai spiritual (Islam) melarang bahkan mengharamkannya.
Saya kira ini juga tak lepas dari kurang pahamnya tentang hari kasih sayang yang mencontoh prilaku atau budaya Barat yang ngak pantas dilakukan oleh masayarakat Indonesia yang mayoritas Islam. Padahal sebenarnya hari kasih sayang itu ngak hanya ada dikalangan nasrani (Barat) tapi di kalangan orang Islam juga ada, sayangnya banyak yang gak tahu khususnya kalangan remaja. Ya.....mungkin minimnya pengetahuan tentang agama salah satu faktor dari penyimpangan kiblat. Asal kalian tahu, bahwa hari kasih sayang sudah ada sejak zamannya nabi Muhammad SAW dan itu pertama kali dicontohkan oleh beliau. Gini ceritanya;

Setelah perang badar yang mana umat Islam mengalami kemenangan, setiap musuh yang masih hidup menjadi tawanan orang muslim sedangkan harta rampasan perang (ghonimah) menjadi milik orang muslim. Pada waktu itu setelah perang Badar, para tentara dari pihak musuh yang kalah juga harta rampasan perang dikumpulkan jadi satu di lapangan.

Di setiap kepala sahabat dah membayangkan hasil yang akan mereka dapatkan setelah susah payah berperang dengan taruhan nyawa (meski tujuannya bukan ghonimah tapi li illahi kalimatillah).

Ketika itu rasul berdiri dihadapan para tahanan perang kemudian berkata pada mereka; "wahai saudaraku, hari ini adalah hari kasih sayang bukan hari pembantaian" kata beliau. Para sahabat dan tahanan perang tercenggang mendengarkan perkataan beliau.

"Kalian semua kami bebaskan, kembalilah kekeluarga kalian dengan damai dan ambillah harta kalian semua. Ini bukan hari pembantaian akan tetapi ini adalah Yaumul Marhamah (hari kasih sayang)"

Mereka disuruh membawa semua harta dan senjata mereka bahkan kendaraan mereka dikembalikan untuk dibawa pulang. Parasahabat bingung melihat ini semua, dalam hati mereka mengerutu akan keputusan nabi. Kalau masalah mereka di lepasakan itu tidak masalah bagi para sahabat tetapi yang membuat mereka mengerutu masalah harta yang seharusnya mereka dapatkan hilang sudah, karena sudah sekian banyak harta dan tenaga bahkan nyawa mereka taruhkan akan tetapi tidak secuilpun ghonimah yang mereka dapatkan sebagai gantinya.

Akhirnya ada satu sahabat yang berani memprotes keputusan nabi. "Wahai ya Rasul, maaf sebelumnya. Kanapa Anda melepaskan para tawanan perang, ditambah lagi harta yang seharusnya jadi milik kita engkau berikan kepada mereka bukan pada kami, sedangkan kami mempertaruhkan harta dan nyawa kami malah tidak mendapatkan apa-apa"

Nabi hanya tersenyum mendengar ucapan sahabat tersebut. Kemudian beliau berkata;

"Menerut kalian apakah aku tidak mencintai kalian"tanya rasul.

"Tidak ya rasul, engkau sangat mencintai kami semua" jawab sahabat
"Terus kalian lebih memilih mana antara cintaku kepada kalian atau harta tersebut" tanya rasul.

Mendengar perkataan tersebut para sahabat menangis dan memeluk nabi sambil berucap "kami lebih memilih engaku ya rasul".

Sejak itulah umat Islam mengenang sebuah hari kasih sayang, hari di mana terdapat sebuahn momentum cinta kasih tanpa ada pamrih, cinta yang begitu mendalam karena Allah semata. Inilah sepenggal cerita yang telah dibuktikan oleh sejarah akan kemurnian cinta yang tak merusak pencinta dan sang pecinta itu sendiri. Ingat jangan mejadi Fahri yang tak tegas menyikapi cinta tiga wanita, jangan menjadi Nurul yang terlalau merana karena cinta, jagan menjadi Maria yang rela mati karena cinta dan jangan menjadi Noura yang dia jadi gila karena cinta. Semoga kita semua bisa mengambil ibroh dari cerita di atas dan dapat menepatkan cinta pada tempatnya. Amin...

1.25.2010

Fatima Mernissi


Agama selalu bisa dimanipulasi SATU kepedihan membuat Mernissi menggugat kedudukan perempuan dalam Islam. Nyeri itu muncul, saat dia remaja, dan mendengar hadits yang dibacakan gurunya: “Anjing, keledai dan perempuan akan membatalkan salat seseorang apabila mereka melintas di depan, menyela antara orang yang salat dan kiblat.”

“Perasaan saya amat terguncang mendengar hadits semacam itu, saya hampir tak pernah mengulanginya dengan harapan, kebisuan akan membuat hadits ini terhapus dari kenangan saya. Saya selalu bertanya, bagaimana mungkin Rasullullah mengatakan hadits semacam ini, yang demikian melukai saya… Bagaimana mungkin Muhammad yang terkasih, bisa begitu melukai perasaan saya, gadis cilik, yang di saat pertumbuhannya, berusaha menjadikan dia sebagai pilar-pilar impian romatisnya,” aku Mernissi dalam Wanita dalam Islam.[1]

Sejak kecil, Mernissi memang telah terlibat dengan pemikiran keislaman, dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang liar. Ia misalnya menggugat batas antara lelaki dan perempuan. Kalau disepakati ada batas, katanya, kenapa hanya pihak perempuan saja yang dibatasi dan ditutupi. Di mana keadilan itu?

Tak heran, akibatnya, hubungan Mernissi dan agama menjadi begitu ambivalen. Di rumah, melalu neneknya, Yasmina, ia diajarkan agama secara indah, puitis dan bersahabat. Di sekolah, ia diajarkan al-Quran dengan cara yang keras. Ia harus menghapal ayat, dan jika salah, bentakan dan pukulan selalu menderanya. Agama baginya jadi sesuatu yang mengerikan. Tak heran, ajaran neneknya tentang perjalanan haji, keindahan Mekkah dan Madinah, nikmatnya bergegas meninggalkan arafah dan Mina untuk menginap di Madinah, amat mengobati luka itu. Obsesinya pun muncul untuk melihat dan menikmati kota Nabi tersebut.

Dua cara didikan ini membuat Mernissi mengganggap agama Islam sangat tergantung pada bagaimana perspektif dan penerimaan kita terhadapnya. Ayat suci bisa menjadi gerbang melarikan diri atau hambatan yang tak bisa diatasi. Al-Quran bisa menerbangkan ke alam mimpi, atau pelemah semangat belaka.

Dewasa di penjara harem

Fatima Mernissi lahir di Fez, Maroko, 1940. Ia tinggal dan dibesarkan dalam sebuah harem bersama ibu dan nenek-neneknya, serta saudara perempuannya. Harem itu dijaga ketat seorang pejaga pintu, yang mengawasi mereka agar tak meninggalkan “penjara” itu, dan digembirakan beberapa pelayan.

Nenek Mernissi, Yasmina, adalah istri kakeknya, dengan sembilan wanita lain. Tapi, nasib buruk itu tak menimpa pada ibu Mernissi. Ayahnya, seorang nasionalis Maroko, menolak poligami.

Berbeda dari ibunya yang tak bisa membaca, Mernissi yang lahir di saat kaum nasionalis berhasil mengusir Prancis, mendapatkan hak untuk bersekolah. Meskipun tinggal di harem, ia dapat mengenyam pendidikan yang tinggi. Semua kisah Mernissi di harem, bersama keluarga besarnya, hasrat mereka untuk menikmati kebebasan, dan kegembiraan melihat dunia luar meskipun hanya dari lubang kunci, dia gambarkan dengan indah –sekaligus pedih– dalam bukunya, The Harem Within.

“Jangan bayangkan harem hanya berada di dalam istana (imperial), karena harem yang saya tinggali adalah harem kelas biasa (domestik), yang tak bergelimang dengan kemewahan,” tulisnya. Tapi, Mernissi tetap berhasil mendapat gelar di bidang politik dari Mohammed V University di Rabat, Maroko, dan gelar PhD dari Universitas Brandels, Amerika pada tahun 1973. Disertasinya, Beyong the Veil and Male Elite menjadi rujukan kepustakaan Barat untuk melihat posisi perempuan Maroko.[2]

Karya-karya Mernissi memang sarat dengan gugatan yang bersumber dari pengalaman pribadinya. Ia pun dengan rajin meriset apa pun yang mengganggu paham keberagamaannya. Pelacakannya terhadap nash-nash suci Quran dan hadis membuat kritik Mernissi begitu terasa tajam. Ia misalnya, melacak perawi hadits sampai tingkat yang terkecil, dan meneliti riwayat hidup perawi tersebut, dan membongkar kecacatan hadits itu. Baginya, amat mustahil Rasullulah Muhammad sampai memosisikan perempuan dalam kedudukan yang serendah itu.

Tafsir alternatif Mernissi yang amat terkenal tajam dapat terlihat dari dua bukunya, The Forgotten of Queen in Islam dan Islam and Democracy, yang keduanya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Ratu-Ratu Islam yang Terlupakan, oleh Mizan, 1994, dan Islam dan Demokrasi: Antologi Ketakutan oleh LKIS, 1994. [3]

Mernissi menunjukkan, kekurangan pemerintahan Arab bukanlah karena UUD mereka tak Islami, tapi karena para pemimpinnya menafsirkan agama berdasarkan kepentingan mereka. Mernissi menunjukkan, betapa agama dengan sangat mudah dapat dimanipulasi. Karena itu aia percaya, penindasan terhadap perempuan adalah semacam tradisi yang dibuat-buat, bukan murni ajaran Islam. Makanya, tak ada keraguan bagi feminis ini untuk menggugat hal tersebut dalam bukunya, Rebellion’s Women and Islamic Memory.

Sebagai seorang sosiolog, Mernissi bahkan bergerak dalam wilayah yang amat luas. Ia misalnya, amat konsern pada masalah hijab. Hijab baginya hanya pembatasan ruang publik bagi seorang perempuan. Hijab juga berarti pemisahan antara penguasa dan rakyat, sebagai citra kekuasaan mutlak dunia lelaki atas perempuan. Kenapa hijab menjadi agenda Mernissi? Karena hidup dia dan keluarganya, amat menderita oleh praktik hijabisasi itu.

Mernissi juga menjelaskan secara sosiologis batas-batas seksualitas perempuan Maroko, dan bagaimana hidden transcript masyarakat menunjukkan perlawana hal itu. Bukunya yang berasal dari disertasi, dan beberapa buku penelitian yang lain, adalah representasi –juga perlawanan– yang sangat baik tentang persoalan perempuan di dunia Islam pada umumnya. Dan tampaknya, sampai kini, Mernissi tak berniat akan pernah berhenti.[4]

Fatima Mernissi tidak menafikan pentingnya faktor ekonomi dan politik dalam sebuah negara --untuk menentukan nasib kaum wanita khususnya. Tetapi, ada masalah yang lebih penting lagi, yaitu "discourse tentang wanita" yang telah diciptakan oleh sosio-budaya Arab. Menurut Mernissi, diskursus wanita yang berlaku dalam komunitas Arab telah dibentuk sedemikian rupa oleh budaya dominasi lelaki. Dan dengan dominasi itu, perempuan selalu ditempatkan dan dipandang negatif --dari perspektif apa saja.[5] Mernissi tidak meletakkan seluruh beban pada negara. Ia lebih menyalahkan struktur sosial yang telah menyengsarakan nasib wanita. Yang dimaksud dengan struktur sosial, menurutnya, juga doktrin dan ajaran agama yang menjadi salah satu fondasi penting sebuah masyarakat. Mernissi tidak sepenuhnya percaya dengan sekelompok elit pemikir (kaum tradisionalis?) yang turut membicarakan persoalan perempuan. Bahkan ia menganggap diskusi-diskusi di sekitar turats sebagai omong kosong. Menurutnya, "perdebatan di sekitar turats tidak lebih dari cara baru kaum lelaki meraih kembali dominasinya atas wanita".[6]

Mernissi memandang turats secara negatif. Ia percaya bahwa model masa lalu (al-madli) tidak lagi memadai untuk konteks modern. Itu karena ia meyakini bahwa persoalan yang dihadapi masyarakat Arab sekarang sangat kompleks.[7] Kendati demikian, bukan berarti Mernissi sepenuhnya berpegang pada capaian modernitas. Dalam banyak tulisannya, dengan keras ia mengecam Barat. Model feminisme yang dikembangkan Barat, menurutnya, hanya melahirkan diskriminasi terhadap perempuan dengan bentuk lain.[8]


[1] www.suaramerdeka.co.id

[2] Ibid

[4] www.suaramerdeka.co.id

[5] F. Mernissi, Al-Dimuqratiyyah ka Inhilal Khuluqi, hal. 57; Hisham Sharabi, Theory,

[6] Politics and the Arab World. New York, 1990, hal. 41

[7] Ibid

1.02.2010

Syikh Umar Tilmisani (mursyid III Ikhwanul Muslimin, 1322-1406 H/1904-1986 M)

Syaikh Umar Tilmisani adalah sosok Ustadz Umar Abdul Fattah bin Abdul Qadir Mushthafa Tilmisani. Ia menjabat menjadi Mursyid ‘Am Ikhwanul Muslimin setelah wafatnya Mursyid ‘Am kedua, Hasan Al-Hudhaibi, bulan November 1973.

Tempat ,tanggal lahir dan Masa kecil Syaikh Umar Tilmisani.

Garis keturunan Syikh Umar Tilmisani berasal dari Tilmisan ,Al-jazair. Ia lahir di kota Kairo ,tahun 1322 H/1904,tepatnya di jalan Hausy Qadam,Al-Ghauriah. Ayah dan kakaknya pedagang kain dan batu permata.

Kakek Syaikh Umar Tilmisani seorang Salafi yang banyak mencetak buku-buku karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Karena itu, ia tumbuh dan besar dilingkungan yang jauh dari bid’ah.

Syaikh Umar Tilmisani mengikuti Sekolah Dasar di Sekolah yang di kelola yayasan sosial tingkat menengah dan atas di Madrasah Ilhamiyah, kemudian masuk Fakultas Hukum.

Tahun 1933, Syaikh Umar Tilmisani tamat dari Fakultas Hukum, kemudian mendirikan kantor pengacara di Syabin Al-Qanathir dan bergabung dengan jama’ah ikwanul Muslimin.

Syaikh Umar Tilmisani pengacara pertama yang bergabung dengan Ikhwan, mewakafkan pemikiran, dan potensi untuk membelanya.Ia termasuk orang dekat Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Ia sering menyertai Al-Banna dibeberapa lawatan, baik di dalam maupun di luar Mesir. Bahkan, Al-Banna sering meminta bantuannya dalam menyelesaikan beberapa masalah.

Syaikh Umar Tilmisani menikah saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Istrinya wafat bulan Agustus 1979, setelah menyertainya setengah abad lebih. Dari pernikahan ini iIa dikaruniai empat orang anak; Abid,Abdul Fattah, dan dua putri.

Kesibukan Syaikh Umar Tilmisani sebagai pengacara tidak membuatnya lupa memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan. Ia banyak menelaah beragam ilmu, seperti tafsir, hadits, fiqh, sirah, tarikh, dan biografi para tokoh.

Syikh Umar Tilmisani selalu mengikuti perkembangan berbagai konspirasi musuh Islam, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia rajin mewaspadai, mengkaji, menentukan sikap, menentang konspirasi dengan bijaksana dan nasihat yang baik, membantah tuduhan-tuduhan, mementahkan ungkapan-ungkapan, dan mengikis syubhat-syubhatyang dibuatnya, dengan kepercayaan diri orang mukmin yang tahu ketinggian nilai agamanya dan kehinaan di selain Islam. Sebab, tiada penolong setelah Allah ta’ala dan tiada agama yang diridhoi Allah selain Islam.

Komitmen diri Syaikh Umar Tilmisani

Syaikh Umar Tilmisani meninggalkan kesan positif pada orang-orang yang mengenal atau berhubungan dengannya. Ia di karuniai kelebihan hati, kebersihan jiwa, kehalusan ucapan, keluasan ucapan yang keluar dari lisan, keindahan pemaparan, teknik berdebat, dan berdialog yang sangat baik.

Syaikh Umar Tilmisani menceritakan komitmen dirinya, “kekerasan dan ambisi untuk mengalahkan orang lain tidak pernah menemukan jalan untuk masuk ke dalam aklakku. Karena itu, saya tidak bermusuhan dengan siapa pun, kecuali dalam rangka membela kebenaran, atau menerapkan Kitab Allah Ta’ala. Kalaupun ada permusuhan, maka itu berasal dari pihak mereka, bukan dariku. Saya menyumpah diriku untuk tidak menyakiti seorang pun dengan kata-kata kasar, meski saya tidak setuju dengan kebijakannya, atau bahkan ia menyakitiku. Karena itu, tidak pernah terjadi permusuhan antara diriku dengan seseorang karena masalah pribadi.”
Tidak berlebihan kalau saya bahwa siapa pun yang keluar dari majelisnya, pasti mengagumi, menghormati, dan mencintai dai unik yang menjadi murid Imam Hasan Al-Banna ini, lulus dari madrasahnya, dan bergabung dengan jamaahnya sebagai dai yang tulus dan iklash.

Akhlak dan Sifat Syaikh Umar Tilmisani

Syikh Umar Tilmisani sangat pemalu, seperti diketahui orang-orang yang melihatnya dari dekat.

Orang yang sering duduk dan berdialog dengan Syaikh Umar Tilmisani merasakan bahwa keras dan lamanya ujian yang ia alami di penjara, malah mensterilkan dirinya, hingga tiada tempat di dalam dirinya selain kebenaran. Ia mendekam di balik jeruji besi selama hampir dua puluh tahun. Ia masuk penjara pertama kali tahun 1948. masuk lagi tahun 1954. Namun, ujian-ujian itu tidak mempengaruhi dirinya, dan bahkan menambah ketegasan dan ketegarannya.

Di wawancara dengan majalah Al-Yamamah Arab Saudi, edisi tanggal 14 januari 1982, Syaikh Umar Tilmisani berkata,”Tabiat yang membesarkanku membuatku benci kekerasan, apapun bentuknya. Ini bukan hanya sekedar sikap politik, tapi sikap pribadi yang yang terkait langsung dengan struktur keberadaanku. Bahkan, andai dizalimi, saya tidak akan menggunakan kekerasan. Mungkin, saya menggunakan kekuatan untuk mengadakan perubahan, tapi tidak untuk kekerasan.”

Nasihat-nasihat Syaikh Umar Tilmisani

Di untaian nasehat yang disampaikan di depan generasi muda, dai Ikhwan,Ikhwan, dan lainnya, Syaikh Umar Tilmisani berkata, “Tantangan yang menghadang dai saat ini, sangat berat dan sulit. Kekuatan materi berada di tangan musuh-musuh Islam yang bersatu untuk memerangi umat Islam, meskipun mereka memiliki kepentingan berbeda. Jama’ah Ikhwanul Muslimin sekarang menjadi sasaran tembak mereka.

Menurut perhitungan manusia, pasukan Thalut yang beriman tidak mampu melawan Jalut dan tentaranya. Tapi, ketika pasukan kaum mukmin yakin kemenangan itu datang dari Allah Ta’ala, bukan hanya tergantung pada jumlah personil dan kelengkapan persenjataan, maka mereka dapat mengalahkan pasukan Jalut dengan seizin Allah Ta’ala.

Saya tidak meremehkan kekuatan personil. Juga tidak meminta dai selalu bungkam, berdzikir dengan menggerakkan leher kekanan dan kekiri, memukulkan telapak tangan, dan berpangku tangan. Sebab, itu semua bencana yamg membahayakan dan mematikan.

Sesungguhnya, yang saya inginkan adalah berpegang teguh dengan wahyu Allah Ta’ala, berjihad dengan kalimat yang benar, tidak menghiraukan gangguan, menjadikan diri sebagai teladan dalam kepahlawanan, bersikap ksatria, tegar,dan yakin bahwa Allah Ta’ala pasti menguji hamba-hamba-Nya dengan rasa takut,lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan, agar dapat diketahui siapa yang tulus dan siapa yang munafik. Aspek-aspek inilah yang merupakan penyebab kemenangan. Kisah-kisah Al-Qur’an ialah argumen paling baik dalam masalah ini.

Semangat pemuda yang diiringi pemahaman mendalam tidak memerlukan banyak eksperimen. Tapi, sangat membutuhkan kesabaran, kekuatan komitmen pada aturan-aturan Al-Qur’anul karim, dan telaah sirah generasi pendahulu yang telah menerapkannya di setiap aktivitas mereka. Itu penting, agar Allah Ta’ala mengaruniakan kemenagan, kemuliaan, dan kekuasaan yang hampir dianggap mustahil.”

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri (Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981)

Assalamu'alaikum teman-teman, sudah lama saya tidak mengupdate blospot ini.ya...maklumlah lagi ngurusin ummat, ummta yang mana nih...??? :-). sebagai awalannya aku coba kupas kembali sejarah sigkat seorang Pemikir Islam Kontemporer Syakh Muhammad Kamaluddin A-Sananiri. semoga bermanfaat. selamat membaca.


Wassalam..!

Slendangwetan


Muhammad Kamaluddin A-Sananiri

(Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981)

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri lahir di Kairo tanggal 11 Maret 1918. Ia dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan. Mengenyam studi ditingkat dasar dan menegah. Tahun 1934 bekerja di Departemen Kesehatan bagian Penanggulangan Penyakit Malaria. Tahun 1938, ia dipecat dari Departemen Kesehatan, kemudian berencana meneruskan kuliah di Universitas Amerika, jurusan farmasi, agar dapat bekerja di Apotik Al-Istiqal milik ayahnya. Tetapi salah seorang tokoh agama berhasil meyakinkannya agar tidak berangkat ke Amerika, sebab ada beberapa kerugian menyangkut keberadaannya di Amerika.

Keterkaitan Muhammad Kamaluddin As-Sananiri dengan Ikhwanul Muslimin

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri bergabung dengan jamah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1941. Karena paham, ikhlas, dan dinamis, ia lebih menonjol di kalangan anggota-anggota Ikhwan seusianya. Bahkan ia banyak mendapatkan tugas. Muhammad Kamaluddin As-Sananiri murid yang setia pada prinsip-prinsip gurunya, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Ia memahami jalan dakwah dipenuhi ancaman, duri, dan rintangan. Sebab, itulah jalan menuju surga, jalan yang dipenuhi dengan hal-hal yang tidak mengenakkan.

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri menghafal dan mengulang-ulang ungkapan seorang guru pada muridnya,“Ketidaktahuan rakyat pada hakikat Islam akan menjadi kendala bagi kalian. Ulama resmi yang menjilat pada penguasa akan memusuhi kalian. Setiap pemerintah berusaha membatasi aktivitas kalian dan memasang gangguan di jalan yang kalian tempuh. Mereka akan meminta bantuan dengan menjilat orang-orang yang berjiwa lemah dan berhati sakit. Sebaliknya, akan berlaku kasar dan beringas pada kalian. Karena itu, kalian akan di pejara, disiksa, diusir, rumah-rumah kalian digeledah, harta kalian dirampas, dan tuduhan kejih dilontarkan kepada kalian, dengan harpan wibawah kalian akan hilang. Mungkin, ujian itu kan berlangsung lama. Sadarilah, saat itu kalian baru mulai menapaki jalan yang telah ditempuh para mujahid.”

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri mampu menerjemahkan ungkapan tersebut dalam realita kehidupan. Ia dan beberapa saudaranya benar-benar merasakan yang tergambar dalam ungkapan itu selama seperempat abad di penjara. Meskipun berada dalam gelapnya jeruji besi dan ganasnya cambukan cemeti, mereka tidak pernah menyerah dan mengucapkan sepatah kata pun. Justru, dzikir kepada Allah selalu menghiasi lisan meraka. Mereka merasa Allah selalu bersama dan menjaga meraka. Karena itu, meskipun disiksa mereka menikati siksaan. Ujian tidak memberi pengaruh kecuali menjadikan mereka semakin dekat kepada Allah dan rindu kepada-Nya.

Ayahnya wafat dengan meninggalkan keluarga yang tgerdiri dari seorang ibu, tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Karena itu, menjadi penganti ayahnya, memberikan belanja kepada keluarga. Demikianlah, akhirnya ia memikul tugas-tugab dakwah dan keluarga. Tapi, ia ridha dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah untuknya berusaha memenuhi kebutuhan kelurga, dan tetap aktif di kegiatan-kegiatan dakwah. Ia menanam tanaman yang mendatangkan buah di masa depannya.

Ketika musuh Islam membuat konspirasi untuk dakwah dan tokoh-tokohnya, ia mendapat ujian, sebagaimana yang dialami saudara-saudara seperjuangannya. Tangal 28 Februari 1954, massa bergerak menuju Istana Abidin untuk menyerukan kemerdekaan yang telah dipasaung dan dirampas Abdun Naser dan kaki tanganya. Muhammad Kamaluddin As-Sananiri punya peran penting dalam menata dan mengkoodinasikan demo besar tersebut. Tragisnya, demonstrasi yang diikuti ratusan ribu massa dan dikomandani Asy-Syahid Abdul Qadir Audah ini dihujani peluru, hingga banyak demonstran yang syahid.

Kaki tangan pengausa selalu memata-matai aktivis yang menjadi koordinator demo yang diantarannya adalah Muhammad Kamaluddin As-Sananiri. Karena itu, ia ditangkap dan mahkama lelucon menjatuhkan hukuman kerja paksa selama dua puluh tahun.

Ia di tangkap bukan Oktober 1954 dan dibebaskan pada bulan Januari 1973. pembebasannya bukan atas jasa Anwar Sadat. Sebab, pada masa Sadat ia masih di penjara Al-Wahat, dijemur di bawah terik matahari yang membakar, ditempatkan di padang pasir yang membara, dan disuruh berjalan di padang pasir yang panas membara tanpa alas kaki.

Setelah hukan penjara ditetapkan, mereka menekan istri dan ibunya, agar membujuknya bersikap lunak dan menulis dua baris kalimat dukungan pada Abdun Naser. Ia tidak bergeming sama sekali. Ketika sang ibu yang berusia tujuh puluh tahun itu menangis dan memintanya untuk mengajukan permintaan maaf kepada pemerintah, ia menjawab dengan lembut, “Bagaimana nasibku di hadapan Allah, apabila saya mengemis surat ini pada Abdun Naser, kemudian saya mati? Apakah ibu ridha saya mati dalam keadaan musyrik?”

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri memberi pilihan kepada istrinya untuk tetap menjadi istrinya atau bercerai. Istrinya menitikkan air mata dan berkata, “Saya pilih tetap menjadi istrimu, wahai kekasihku!”

Penangkapan Dan Pemanjaraan Muhammad Kamaluddin As-Sananiri

Ketika dalam penjara ia mendapatkan penyiksaan keji, hingga salah satu telinganya cidera. Karena itu, ia dipindahkan ke Rumah sakit Al-‘Aini. Keluar dari penjara ia memuji Allah karena telinganya yang cidera dapat mendengar lebih baik dari pada yang tidak cidera.

Saudara ipar dari istrinya yang dicerai juga masuk penjara bersama Muhammad Kamaluddin A-Sananiri. Ketika ia menyaksikan siksaan keras yang menimpa Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, ia bengong dan hilang akal, hingga di bawa ke rumah sakit saraf.

Ibu dan saudari tertua Muhammad Kamaluddin A-Sananiri selalu menghadiri mahkama lelucon yang mengadilinya tahun 1954. pada sidang pertama sang ibu tidak mengenali purtanya, karena perubahan fisiknya akibat siksaan. Sang ibu bertanya kepada anak putrinya, “Mana saudaramu?” Purtrinya menjawab, “Dia yang dikurungan itu!” Sang ibu berkata, “Bukan wai putriku. Apakah mataku sudah rabun hingga tidak bisa mengenalinya?”

Tubuh Muhammad Kamaluddin A-Sananiri sangat kurus, hingga pakainnya menjadi longgar. Thaghut Mesir mencukur habis jenggotnya, merontokkan rahang dan menciderai telingganya, hingga sang ibu tetap bersikeras bahwa yang disidang bukan anaknya, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri.

Pernikahan di Penjara

Pada masa penahanan yang panjang,. Muhammad Kamaluddin A-Sananiri melangsungkan pernikahan dengan wanita mulia, Aminah Quthb, saudari kandung Sayyid Quthb. Keduanya baru dapat berkumpul bersama setelah Muhammad Kamaluddin A-Sananiri keluar dari penjara tahun 1973. ia tidak dikaruniai keturunan dari perkawinan tersebut, karena usia Aminah sudag lebih dari lima puluh tahun.

Sifat Zuhud dan Wara’ Muhammad Kamaluddin A-Sananiri

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri lebih menyukai kesederhanaan dan mencintai orang-orang lugu. Ia membimbing dan mengajarkan aqidah murni yang bersih dari bid’ah dan khurafat kepada mereka. Ia zuhud terhadap kehidupan dunia. Malam ia gunakan untuk qiyamullail dan sebagian besar siang untuk berpuasa. Saat di penjara, ia hanya mengunakan pakaina kasar dan lusuh.

Tidak heran, kalau lelaki yang cara hidupnya seperti itu enggan meuruti bujukan dan ancaman sipir serta intel pemerintah, agar memberi dukungan kepada Gamal Abdun Naser, meski peluang untuk mengambil rukhshah ada.

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri buah madrasah Hasan Al-Banna, saudara yang tulus yang sulit ditemukan pada masa ini. Orang-orang seperti inilah tumpuan harapan umat. Kader seperti inilah yang dapat menyelamatan umat dari keterbelakangan, membangun mereka dari tidur panjang, dan mengembalikan mereka pada manhaj Ar-Rahman.

Ketika kembali dari Afghanistan, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri ditangkap dan disiksa oleh sipir penjara, untuk mengetahui perannya bersama saudara-saudaranya jihad di Afghanistan. Tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya, meski siksaan tiada henti dan semakin sadis. Akhrinya, iamenghembuskan nafas terakhirnya sebagai syahid sejati, insya Allah, tanggal 8 November 1981.

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri senantiasa disiksa durjana yang dipimin penjagal Hasan Abu Pasha. Masa-masa terakhir menjelang syahidnya adalah puncak zuhudnya terhadap dunia dan kerinduannya kepada surga.

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri jatuh di depan algojo yang memaksanya mencadi berbagai jamaah Islam. Meski demikian ia selalu mengatakan “ Sadat telah menggalu kuburanya sendiri saat mendatangani perjanjian menghinakan (Camp David). Perjanjian yang berisi penyerahan leher Mesir kepada Israil dan Amerika.” (Majalah Al-Mujtama’, 11 November 1981)

Istri Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, Aminah Quthb, menulis syair sendu untuk mengenang kepergiannya,

aku tidak lagi menunggu yang kembali bersama jadwal sore

aku tak berhias menyambut yang kembali bersama harapan

aku tidak menanti yang datang, ungkapan, dan pertemuan

aku tidak menanti langkahmu yang datang setelah bertugas

aku menyinari tangga kerinduan yang semakin membahagiakan

aku tidak lagi bergegas menyambut senyummu, meski letih

menyinari rumah dengan salam yang penuh kehangatan

detik-detik berulang, tetepi bagaiman kita bertemu di sore hari?

mata ku tertidur dengan tenang, tidak terganggu ujian

telingaku tidak lagi mendengar lantunan doa-doa mu

pendengaran ku tidak lagi menangkap suara adzan di angkasa

aku bertanya kepada dunia, Adakah yang mendengar suaraku?

tahukah kamu, kerinduanya pada surga atau cinyanya kepada langit?

apakah ini janji Allah?

apakah waktu pemenuhan janji sudah tiba?

hingga aku berlari seperti orang rindu dan kasmaran pada seruan?

apakah aku dapat bertemu pada kekasih disana?

bagaimana model pertemuannya?

di hadapan Allah di surga Firdaus yang dikucuri karunia?

apakah di rumah hakiki kalian berkumpul dan berlindung?

bila ya, selamat datang kematian dan kucuran darah

aku akan menemui kalian di sana, dan lenyaplah rumah kesengsaraan

ya, aku akan menemui kalian. Ini janju yang akan ditepati

kami diberi pahala dalam hari-hari yang berlalu dengan air mata dan ujian

kami berlindung dalam surga, hingga tak takut berpisah atau binasa

Semoga Allah ta’ala merahmati ustadz ita, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, dengan rahmat yang luas dan mempertemuakan kita dengannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Karena mereka sebaik-baik teman.

2.11.2009

Nulis Arab tanpa keyboard atau software

Saya sering ditanya teman-teman kuliah (IAIN) bagaiman cara mencari tulisan berteks arab..ya mentang-mentang aku sering kewarnet.termasuk teman yg di pascasarjana mau cari artikel2 berbahsa arab.
Setalah lama searching di google, akhirnya ku temukan jugu situs yang kasih petunjuk agar mudah mencari tulisan yang berbahasa Arab tanpa mengunakan keyboard tambahan (http://kamus.javakedaton.com/), kayak yang ada di bagain bawah blog ini.
Namun yang ini berbedanya ini langsung dari web n langsung mencari tulisan tanpa harus mengkopinya satu persatu. klik ja di sini. atau langsung searching di google di sini atau melalui situs yamil Arabic search klik di sini..

12.02.2008

Kajian Teks Tentang Ihy' Ulumuddin Bab Fakir dan Zuhud


PENDAHULUAN

Imam Al-Ghazali adalah tokoh Islam yang sangat terkenal, disamping sebagai ahli tasawuf beliau juga terkenal sebagai seorang filsuf Islam meskipun ia lebih tersohor sebagai ahli tasawuf. Tidak banyak orang khususnya umat Islam mengetahui bahwa beliau (Al-Ghazali) selain sebagai ahli dalam bidang ruhani (ilmu kebatinan) beliau juga ahli dalam bidang filsafat. Seperti yang dituliskan oleh Za’szuk (pengamat dan peniliti Al-Ghazali dari sudut filsafat) mengatakan bahwa teori skeptis Descrat itu mencontoh dari teori-teori Al-Ghazali (sayangnya penulis lupa judul buku yang ditulis oleh Za’zuk)

Melihat nama besar beliau terutama pada kitab terkenalnya yaitu IHYA’ UMULLUDDIN yang tak terlepas dari kritikkan terutama dari kalangan salafi, Al-Ghazali mampu mengkaver ikhawal yang berkenaan dengan kehidupan manusia dengan Tuhannya hingga sampai hal yang terkecil pun, yaitu fakir dan zuhud. Maka dalam makalah ini penulis akan mencoba mereviuw kebali mengenai hakekat fakir, menjelaskan tentang keutamaan fakir secara mutlak, haramnya meminta tanpa dharutat

Lalu makalah ini juga akan membahas (mereviuw) kembali mengenai hal – hal yang berhubungan dengan penjelasan hakekat zuhud, penjelasan keutamaan zuhud, penjelasan derajat zuhud dalam makanan, pakaian, tempat tinggal, perabot – perabot dan berbagai macam penghidupan dan penjelasan tanda – tanda zuhud.


BAGIAN PERTAMA

TENTANG FAKIR

Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa fakir itu adalah orang yang tidak memiliki harta sama sekali. Kemudian Imam Al-Ghazali mengkasifikasikan hakikat fakir itu dan memberinya masing-masing nama ;

Hal yang pertama, adalah jika orang itu diberi harta, orang itu tidak menyukainya dan orang itu merasa tersiksa dengan harta tersebut. Maka orang itu disebut zuhud

Hal yang kedua, ialah orang tersebut tidak menyukai harta walaupun orang itu berhasil memperoleh harta tersebut dengan penuh kesenangan. Tapi orang tersebut tidak membenci dengan harta yang diperolhnya itu, maka ia disebut rela

Hal yang ketiga, yaitu orang tersebut diberi harta namun tidak sampai harta tersebut menggerakkan orang itu untuk mencarinya, tapi orang itu tetap mau mengambilnya.maka sifat itu disebut qona’ah.

Hal yang keempat, orang tersebut lemah dalam mencari harta namun ia tetap mau mencarinya walupun dengan bersusah payah, hanya karena kerakusannya. Orang ini disebut rakus harta.

Hal yang kelima, orang tersebut tidak memiliki harta sama sekali kalaupun ada orang tersebut masih saja dibilang telanjang kalaupun memakai pakaian. Maka orang itu disebut ‘terpaksa’ ( Drs. H. Moh. Zuhri, Dipl, TAFL, Ihya’ Ulumuddin Jilid VIII (Imam Al-Ghazali), Semarang : CV. ASY-SYIFA’, 2003 )hal 127-128.

Al-Ghazali dalam kitabnya banyak menyetir hadits-hadits yang bagi penulis tidak jelas perowinya, menunjukkan keutamaan-keutamaan orang fakir. Seperti dalam hadits yang ada dalam buku berjudul ‘RINGKASAN IHYA’ UMULUDDIN AL-ghazali’ tertulis bahwa ada sebuah hadis dari

Haids dari Imran bin Husain diriwayatkan oleh Ibnu Majah bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘ Sesungguhnya Allah menyintai orang fakir yang menjaga kehormatan diri, yang menjadi bapak keluarga.’

Dalam hadis lain Rasulullah saw juga bersabda,’ orang-orang fakir dari umatku masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka dengan selisih waktu lima ratus tahun.’

Diriwayatkan oleh At-Turmidzi dari Abu Umamah bahwa Rasulullah menceritakan pengalamannya bertemu dengan malaikat Jibril. Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah saw,’ wahai Muhammad, sesungguhnya Allah swt menyampaikan salam kepadamu. Dia berfirman : apakah engkau menginginkan jika Aku menjadikan gunung sebagai emas dan selalu bersamamu ?’ Rasulullah menjawab,’ sesunggunya dunia hanyalah kampung bagi orang yang tidak memiliki harta dan harta hanya dikumpulkan bagi orang-orang yang tidak mempunyai akal,’ Jibril a.s berkata, ‘wahai Muhammad, semoga Allah meneguhkan engkau dengan kalimat yang teguh ( hikmah ).’

Dalam hadis lain disebutkan,’ para nabi yang paling akhir masuk surga adalah Sulaiman putra Dawud as karena kedudukan kerajaannya. Dan sahabatku yang paling akhir masuk surga adalah Abdurrrahman bin Auf karena harta kekayaannya.’

Orang-orang fakir yang ikhlas dan tak berkeluh kesah menghadapi keadaannya adalah manusia yang paling utama. Ia tenang dan qanaah dari apa yang diterimanya atas karunia Allah. Karena itu Rasulullah saw bersabda,’berbahagialah orang yang mendapatkan petunjuk kepada Islam dan kehidupannya merasa cukup (tidak menjadi beban orang lain) dan puas apa yang ada.

Rasulullah saw bersabda,’wahai golongan orang-orang yang fakir, berikanlah keridhaan dari hati kamu kepada Allah pasti kamu akan mendapatkan kebahagiaan dengan pahala kefakiran. Apabila tidak kamu tidak memperolehnya.’

Orang fakir yang qanaah dan ikhlas akan mendapatkan pahala. Sedangkan fakir yang rakus sama sekali tidak mendapatkan pahala dari kemiskinannya itu. Diterangkan bahwa orang-orang fakir yang sabar akan duduk berkumpul dan dekat dengan Allah di hari kiamat. Rasulullah saw bersabda,’ sesungguhnya setiap sesuatu itu mempunyai kunci. Adapun kunci surga adalah menyintai orang-orang miskin dan orang-orang fakir, karena kesabaran mereka. Mereka adalah orang-orang yang duduk berkumpul dekat Allah pada hari kiamat.’

- Keutamaan fakir atas kaya

Bahwasanya manusia itu bertentangan pendapat tentang ini. Abu Qasim al-Junaidi, Ibrahim bin Ahmad al-Khawwash dan kebanyakan ulama berpendapat pada keutamaan fakir melebihi kaya. Abul Abbas Ahmad bin Muhammad bin Atha’ berkata : «’orang kaya yang bersyukur yang terdiri dengan kebenaran itu lebih utama daripada orang fakir yang bersabar’.


BAGIAN KEDUA TENTANG ZUHUD

Dalam islam Zuhud mempunyai pengertian khusus, zuhud bukanlah kependetaan atau terputusnya hubungan duniawi. Akan tetapi ia adalah hikamh, pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbu mereka, serta tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. ( Abu al-Wafar al-Ghunnimi al-Taftazani, 1985 : 54).

Zuhud membebaskan dirinya secara penuh dari segala hal yang menghalangi kebebasannya.

Hasan Al-Baghry : dunia merupakan tempat kerja bagi orang yang diseratai perasaan tidak senang dan tidak butuh kepadanya, dan dunia merasa bahagia bersamanya/ dalam menyertainya. Barang siapa menyertainya dengan perasaan ingin memilikinya, dan mencintainya, dia akan dibuat menderita oleh dunia serta diantarakan pada hal-hal yang tidaj tertanggungkan oleh kesabarannya. ( ‘abd al-wahhab al- Sya’ranni. H : 72).

Sesungguhnya zuhud terhadap dunia adalah suatu maqam ( kedudukan) yang mulia diantara kedudukan orang – orang yang menempuh jalan akherat. Orang disebut zuhud karena hatinya tidak tertarik dengan harta kekayaan duniawa. Orang itu lebih tertarik dengan kepentingan akheratnya.

Tanda-tanda zuhud, kadang-kadang ada yang berpendapat bahwa mwninggalkan harta itu zuhud. Sebenarnya tidaklah seperti itu. Karena meninggalkan harta dan menimbulkan keburukan itu sangat mudah dilakukan oleh orang-orang yang ingin dianggap zuhud. Banyak orang-orang yang makan sedikit, dan hidup sangat sederhana-bahkan-miskin lalu tekun beribadah dan ia mendapat pujian dan predikat sebagai zuhud. Kemudian ia merasa sangat senang dipuji demikian. Hal yang demikian bukanlah yang dimaksudkan zuhud. Secara lahiriah mereka zuhud, namun secara batiniah bahwa jiwanya dipenuhi oleh sifat riya’ dan ujub. Mereka mengikuti hawa nafsunya.

Oleh karena itu mengetahui zuhud adalah sukar. Bahkan mengetahui apakah seseorang itu benar-benar zuhud pun sangat sulit. Yang penting adalah berpegang pada batin. ( Abu Fajar al-Qalami, Ringkasan IHYA’ ULUMUDDIN (imam al-Ghazali) Surabaya : Gitamedia Press, 2003) hal 343.

Ada tiga tanda Zuhud yang dirasakan dalam batin seseorang :

  1. seseorang tidak merasa gembira terhadap sesuatu yang ada di depannya ( harta dan sebagainya) dan tidak akan sedih jika sesuatu itu tidak ada di depannya. Sebagaimana firman Allah ,’ Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang terlepas darimu dan agar kamu jangan gembira terhadap sesuatu yang diberikan kepadamu.’ QS al-Hadid 23.
  2. seseorang tidak risau jika dicela dan tidak berbangga hati jika dipuji. Mendapat pujian atau hinaan sama saja dalam bersikap.
  3. merasa sangat cinta kepada Allah dan perasaan itu membuat ketaatannya menjadi sangat kuat.

Imam al-Ghazali mengatakan ,’zuhud berarti membenci dunia demi mencintai akherat. Zuhud bisa juga berarti membenci selain Allah demi mencintai Allah.’

Zuhud menurut Nabi serta para sahabatnya, tidak berarti berpaling secara penuh dari hal-hal duniawi. Tetapi berarti sikap moderat atau jalan tengah dalam menghadapi segala sesuatu, sebagaimana diisyaratkan firman – firman Allah yang berikut : ”Dan begitulah Kami jadikan kamu (umat Islam) umat yang adil serta pilihan”. “Dan carilah apa yang dianugerahkan Allah kepadamu dari (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. Sementara dalam hadits disabdakan : “Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan kamu akan mati esok hari”

Zuhud disini berarti tidak merasa bangga atas kemewahan dunia yang telah ada ditangan, dan tidak merasa bersedih karena hilangnya kemewahan itu dari tangannya. Bagi Abu Wafa al-Taftazani, zuhud itu bukanlah kependetaan atau terputusnya kehidupan duniawi, akan tetapi merupakan hikmah pemahaman yang membuat seseorang memiliki pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi itu. Mereka tetap bekerja dan berusaha, akan tetapi kehidupan duniawi itu tidak menguasai kecenderungan kalbunya dan tidak membuat mereka mengingkari Tuhannya. Lebih lanjut at-Taftazani menjelaskan bahwa zuhud adalah tidak bersyaratkan kemiskinan. Bahkan terkadang seorang itu kaya, tapi disaat yang sama diapun zahid. Ustman bin Affan dan Abdurrahman ibn Auf adalah para hartawan, tapi keduanya adalah para zahid dengan harta yang mereka miliki.

Berbicara tentang arti zuhud secara terminologis menurut Prof. Dr. Amin Syukur, tidak bisa dilepaskan dari dua hal. Pertama, zuhud sebagai bagian yang tak terpisahkan dari tasawuf. Kedua, zuhud sebagai moral (akhlak) Islam dan gerakan protes. Apabila tasawuf diartikan adanya kesadaran dan komunikasi langsung antara manusia dengan Tuhan sebagai perwujudan ihsan, maka zuhud merupakan suatu station (maqam) menuju tercapainya “perjumpaan” atau ma’rifat kepada-Nya. Dalam posisi ini menurut A. Mukti Ali, zuhud berarti menghindar dari berkehendak terhadap hal – hal yang bersifat duniawi atau ma siwa Allah. Berkaitan dengan ini al-Hakim Hasan menjelaskan bahwa zuhud adalah “berpaling dari dunia dan menghadapkan diri untuk beribadah melatih dan mendidik jiwa, dan memerangi kesenangannya dengan semedi (khalwat), berkelana, puasa, mengurangi makan dan memperbanyak dzikir”. Zuhud disini berupaya menjauhkan diri dari kelezatan dunia dan mengingkari kelezatan itu meskipun halal, dengan jalan berpuasa yang kadang – kadang pelaksanaannya melebihi apa yang ditentukan oleh agama. Semuanya itu dimaksudkan demi meraih keuntungan akhirat dan tercapainya tujuan tasawuf, yakni ridla, bertemu dan ma’rifat Allah swt.


PENUTUP/KESIMPULAN

Dari pemaparan di atas dapat kita petik dan ambil kesimpulan-kesimpulan. Kesimpulan mengenai fakir oleh imam al-Gazali dalam kitabnya yang terkenal yaitu Ihya’Ulumuddin memberikan kontribusi bagi kita bahwa fakir dalam pandangan sufi itu memiliki derajat yang sangat tinggi sekali dibandingkan dengan orang yang kaya.

Orang yang miskin atau fakir dalam pandangan sufi nantinya akan mendapatkan derajat yang tinggi apabila si fakir tadi rela dan ridha dengan keadaan yang menimpanya. Bahkan nantinya orang fakir itu akan lebih dahulu masuk surga ketimbang orang yang kaya.

Adapun mengenai zuhud, diatas dapat disimpulkan bahwa zuhud itu adalah orang yang mau meninggalkan segala kemewahan dan kesenangan serta mau meninggalkan segala limpahan hartanya karena di khawatirkan bila tidak segera mengucilkan diri menjadikan orang itu lupa dan lalai terhadap kewajiban-kewajibannya dalam menjalankan perintahNya.

Dan juga dikhawatirkan akan bertambah jauh sekali terhadap keyakinannya. Selalu senang dengan hartanya menjadikan orang tersebut lupa segala-galanya.

Oleh karena itu zuhud adalah upaya untuk mencapai derajat yang tinggi dalam menjalani hidup di dunia yang fana’ ini. Hanya dengan zuhud kita akan semakin dekat kepada Allah dan takut akan azab Allah yang sangat pedih.


DAFTAR PUSTAKA

- Al-Qalami, Abu Fajar, Ringkasan IHYA’ ULUMUDDIN (Imam al-Ghazali) Surabaya : Gitamedia Press, 2003

- Al-Taftazani Dr. Abu al-Wafa al-Ghanimi, Sufi dari Zaman ke Zaman, (Bandung : Pustaka), 1977

- Sayyid, Dr.Abdul Fattah, Tasawuf antara Al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah, Jakarta : Khalifa, 2005

- Syukur , Prof. Dr. Amin MA, Zuhud di Abad Modern, (Yogyakarta : Pustaka Pelajar), 2000,

- Zuhri, Drs. H. Moh., Dipl, TAFL, Ihya’ Ulumuddin Jilid VIII (Imam Al-Ghazali), Semarang : CV. ASY-SYIFA’, 2003

-

Kibod Arabi