Selamat datang di SlendangWetan Institut, Blognya orang yang "sadar diri" !

7.11.2011

Thariq Bin Ziyad Sang Motivator Perang

Masa keemasan Islam antara lain ditandai dengan keberhasilan prajurit-prajurit Muslim menaklukkan wilayah Andalusia, yang kini dikenal sebagai negeri Spanyol. Berkat jasa seorang panglima gagah berani hingga Islam dapat bercokol di sana selama beberapa tahun. Nama pejuang Islam ini begitu harum. Bahkan karena keberanian dan kepahlawanannya, hingga diabadikan untuk sebuah semenanjung bukit karang setinggi 425 m di pantai tenggara Spanyol, Gibraltar atau Jabal Tariq. Nama panglima Muslim itu adalah Tariq bin Ziyad. Kisah itu begitu melegenda meski telah berlalu sekitar 1400 tahun lalu. Di sebuah tepian pantai Spanyol, seorang laki-laki gagah berteriak lantang. Suaranya menggelegar, mengalahkan deburan ombak laut.
Senin, 3 Mei 711 M, Thariq seorang panglima pasukan muslim, dengan membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki. Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.
Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”. Lalu Thariq melanjutkan pidatonya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.
Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit. Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita. Kita harus bahu membahu.
Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya. Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”
Kisah seorang panglima perang yang memimpin pasukannya dengan gagah perkasa. Pemimpin yang tahu akan kondisi yang dipimpinya, sehingga tidak hanya memimpin dengan model otoriter (karena kekuasaannya), tapi dimuati dengan motivasi, dorongan semangat, dan memberi sebuah pilihan yang tidak bisa di tolak oleh pasukannya, yaitu maju mengahadapi musuh yang begitu banyak dengan resiko mati syahid atau mundur menyeberangi lautan dengan cara berenang dengan resiko tenggelam dan mati konyol. Maka, lebih baik maju melawan musuh mati, namun mati syahid mendapatkan ridho-Nya, sedangkan janji Allah tentulah pasti. Allah akan member syurga yang tak pernah bisa dibayangkan oleh manusia. Atau mundur, mati, tapi mati sia-sia. Inilah sekilas cerita panglima Thariq bin Ziyad, semoga kita dapat mengambil pelajaran didalamnya ketika kita diamanahi sebagai pemimpin, baik memimpin keluarga, perusahaan, dan juga memimpin diri sendiri kita harus tahu siapa atau apa yang dialami anak buah kita/orang yang kita pimpin. Sehingga kita bisa memperlakukan mereka dengan baik dan bijak. Wallahu’alam bishawab (dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kibod Arabi