Selamat datang di SlendangWetan Institut, Blognya orang yang "sadar diri" !

1.02.2010

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri (Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981)

Assalamu'alaikum teman-teman, sudah lama saya tidak mengupdate blospot ini.ya...maklumlah lagi ngurusin ummat, ummta yang mana nih...??? :-). sebagai awalannya aku coba kupas kembali sejarah sigkat seorang Pemikir Islam Kontemporer Syakh Muhammad Kamaluddin A-Sananiri. semoga bermanfaat. selamat membaca.


Wassalam..!

Slendangwetan


Muhammad Kamaluddin A-Sananiri

(Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981)

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri lahir di Kairo tanggal 11 Maret 1918. Ia dibesarkan dari keluarga yang berkecukupan. Mengenyam studi ditingkat dasar dan menegah. Tahun 1934 bekerja di Departemen Kesehatan bagian Penanggulangan Penyakit Malaria. Tahun 1938, ia dipecat dari Departemen Kesehatan, kemudian berencana meneruskan kuliah di Universitas Amerika, jurusan farmasi, agar dapat bekerja di Apotik Al-Istiqal milik ayahnya. Tetapi salah seorang tokoh agama berhasil meyakinkannya agar tidak berangkat ke Amerika, sebab ada beberapa kerugian menyangkut keberadaannya di Amerika.

Keterkaitan Muhammad Kamaluddin As-Sananiri dengan Ikhwanul Muslimin

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri bergabung dengan jamah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1941. Karena paham, ikhlas, dan dinamis, ia lebih menonjol di kalangan anggota-anggota Ikhwan seusianya. Bahkan ia banyak mendapatkan tugas. Muhammad Kamaluddin As-Sananiri murid yang setia pada prinsip-prinsip gurunya, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna. Ia memahami jalan dakwah dipenuhi ancaman, duri, dan rintangan. Sebab, itulah jalan menuju surga, jalan yang dipenuhi dengan hal-hal yang tidak mengenakkan.

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri menghafal dan mengulang-ulang ungkapan seorang guru pada muridnya,“Ketidaktahuan rakyat pada hakikat Islam akan menjadi kendala bagi kalian. Ulama resmi yang menjilat pada penguasa akan memusuhi kalian. Setiap pemerintah berusaha membatasi aktivitas kalian dan memasang gangguan di jalan yang kalian tempuh. Mereka akan meminta bantuan dengan menjilat orang-orang yang berjiwa lemah dan berhati sakit. Sebaliknya, akan berlaku kasar dan beringas pada kalian. Karena itu, kalian akan di pejara, disiksa, diusir, rumah-rumah kalian digeledah, harta kalian dirampas, dan tuduhan kejih dilontarkan kepada kalian, dengan harpan wibawah kalian akan hilang. Mungkin, ujian itu kan berlangsung lama. Sadarilah, saat itu kalian baru mulai menapaki jalan yang telah ditempuh para mujahid.”

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri mampu menerjemahkan ungkapan tersebut dalam realita kehidupan. Ia dan beberapa saudaranya benar-benar merasakan yang tergambar dalam ungkapan itu selama seperempat abad di penjara. Meskipun berada dalam gelapnya jeruji besi dan ganasnya cambukan cemeti, mereka tidak pernah menyerah dan mengucapkan sepatah kata pun. Justru, dzikir kepada Allah selalu menghiasi lisan meraka. Mereka merasa Allah selalu bersama dan menjaga meraka. Karena itu, meskipun disiksa mereka menikati siksaan. Ujian tidak memberi pengaruh kecuali menjadikan mereka semakin dekat kepada Allah dan rindu kepada-Nya.

Ayahnya wafat dengan meninggalkan keluarga yang tgerdiri dari seorang ibu, tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Karena itu, menjadi penganti ayahnya, memberikan belanja kepada keluarga. Demikianlah, akhirnya ia memikul tugas-tugab dakwah dan keluarga. Tapi, ia ridha dengan apa yang telah ditentukan oleh Allah untuknya berusaha memenuhi kebutuhan kelurga, dan tetap aktif di kegiatan-kegiatan dakwah. Ia menanam tanaman yang mendatangkan buah di masa depannya.

Ketika musuh Islam membuat konspirasi untuk dakwah dan tokoh-tokohnya, ia mendapat ujian, sebagaimana yang dialami saudara-saudara seperjuangannya. Tangal 28 Februari 1954, massa bergerak menuju Istana Abidin untuk menyerukan kemerdekaan yang telah dipasaung dan dirampas Abdun Naser dan kaki tanganya. Muhammad Kamaluddin As-Sananiri punya peran penting dalam menata dan mengkoodinasikan demo besar tersebut. Tragisnya, demonstrasi yang diikuti ratusan ribu massa dan dikomandani Asy-Syahid Abdul Qadir Audah ini dihujani peluru, hingga banyak demonstran yang syahid.

Kaki tangan pengausa selalu memata-matai aktivis yang menjadi koordinator demo yang diantarannya adalah Muhammad Kamaluddin As-Sananiri. Karena itu, ia ditangkap dan mahkama lelucon menjatuhkan hukuman kerja paksa selama dua puluh tahun.

Ia di tangkap bukan Oktober 1954 dan dibebaskan pada bulan Januari 1973. pembebasannya bukan atas jasa Anwar Sadat. Sebab, pada masa Sadat ia masih di penjara Al-Wahat, dijemur di bawah terik matahari yang membakar, ditempatkan di padang pasir yang membara, dan disuruh berjalan di padang pasir yang panas membara tanpa alas kaki.

Setelah hukan penjara ditetapkan, mereka menekan istri dan ibunya, agar membujuknya bersikap lunak dan menulis dua baris kalimat dukungan pada Abdun Naser. Ia tidak bergeming sama sekali. Ketika sang ibu yang berusia tujuh puluh tahun itu menangis dan memintanya untuk mengajukan permintaan maaf kepada pemerintah, ia menjawab dengan lembut, “Bagaimana nasibku di hadapan Allah, apabila saya mengemis surat ini pada Abdun Naser, kemudian saya mati? Apakah ibu ridha saya mati dalam keadaan musyrik?”

Muhammad Kamaluddin As-Sananiri memberi pilihan kepada istrinya untuk tetap menjadi istrinya atau bercerai. Istrinya menitikkan air mata dan berkata, “Saya pilih tetap menjadi istrimu, wahai kekasihku!”

Penangkapan Dan Pemanjaraan Muhammad Kamaluddin As-Sananiri

Ketika dalam penjara ia mendapatkan penyiksaan keji, hingga salah satu telinganya cidera. Karena itu, ia dipindahkan ke Rumah sakit Al-‘Aini. Keluar dari penjara ia memuji Allah karena telinganya yang cidera dapat mendengar lebih baik dari pada yang tidak cidera.

Saudara ipar dari istrinya yang dicerai juga masuk penjara bersama Muhammad Kamaluddin A-Sananiri. Ketika ia menyaksikan siksaan keras yang menimpa Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, ia bengong dan hilang akal, hingga di bawa ke rumah sakit saraf.

Ibu dan saudari tertua Muhammad Kamaluddin A-Sananiri selalu menghadiri mahkama lelucon yang mengadilinya tahun 1954. pada sidang pertama sang ibu tidak mengenali purtanya, karena perubahan fisiknya akibat siksaan. Sang ibu bertanya kepada anak putrinya, “Mana saudaramu?” Purtrinya menjawab, “Dia yang dikurungan itu!” Sang ibu berkata, “Bukan wai putriku. Apakah mataku sudah rabun hingga tidak bisa mengenalinya?”

Tubuh Muhammad Kamaluddin A-Sananiri sangat kurus, hingga pakainnya menjadi longgar. Thaghut Mesir mencukur habis jenggotnya, merontokkan rahang dan menciderai telingganya, hingga sang ibu tetap bersikeras bahwa yang disidang bukan anaknya, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri.

Pernikahan di Penjara

Pada masa penahanan yang panjang,. Muhammad Kamaluddin A-Sananiri melangsungkan pernikahan dengan wanita mulia, Aminah Quthb, saudari kandung Sayyid Quthb. Keduanya baru dapat berkumpul bersama setelah Muhammad Kamaluddin A-Sananiri keluar dari penjara tahun 1973. ia tidak dikaruniai keturunan dari perkawinan tersebut, karena usia Aminah sudag lebih dari lima puluh tahun.

Sifat Zuhud dan Wara’ Muhammad Kamaluddin A-Sananiri

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri lebih menyukai kesederhanaan dan mencintai orang-orang lugu. Ia membimbing dan mengajarkan aqidah murni yang bersih dari bid’ah dan khurafat kepada mereka. Ia zuhud terhadap kehidupan dunia. Malam ia gunakan untuk qiyamullail dan sebagian besar siang untuk berpuasa. Saat di penjara, ia hanya mengunakan pakaina kasar dan lusuh.

Tidak heran, kalau lelaki yang cara hidupnya seperti itu enggan meuruti bujukan dan ancaman sipir serta intel pemerintah, agar memberi dukungan kepada Gamal Abdun Naser, meski peluang untuk mengambil rukhshah ada.

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri buah madrasah Hasan Al-Banna, saudara yang tulus yang sulit ditemukan pada masa ini. Orang-orang seperti inilah tumpuan harapan umat. Kader seperti inilah yang dapat menyelamatan umat dari keterbelakangan, membangun mereka dari tidur panjang, dan mengembalikan mereka pada manhaj Ar-Rahman.

Ketika kembali dari Afghanistan, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri ditangkap dan disiksa oleh sipir penjara, untuk mengetahui perannya bersama saudara-saudaranya jihad di Afghanistan. Tidak sepatah kata pun keluar dari lisannya, meski siksaan tiada henti dan semakin sadis. Akhrinya, iamenghembuskan nafas terakhirnya sebagai syahid sejati, insya Allah, tanggal 8 November 1981.

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri senantiasa disiksa durjana yang dipimin penjagal Hasan Abu Pasha. Masa-masa terakhir menjelang syahidnya adalah puncak zuhudnya terhadap dunia dan kerinduannya kepada surga.

Muhammad Kamaluddin A-Sananiri jatuh di depan algojo yang memaksanya mencadi berbagai jamaah Islam. Meski demikian ia selalu mengatakan “ Sadat telah menggalu kuburanya sendiri saat mendatangani perjanjian menghinakan (Camp David). Perjanjian yang berisi penyerahan leher Mesir kepada Israil dan Amerika.” (Majalah Al-Mujtama’, 11 November 1981)

Istri Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, Aminah Quthb, menulis syair sendu untuk mengenang kepergiannya,

aku tidak lagi menunggu yang kembali bersama jadwal sore

aku tak berhias menyambut yang kembali bersama harapan

aku tidak menanti yang datang, ungkapan, dan pertemuan

aku tidak menanti langkahmu yang datang setelah bertugas

aku menyinari tangga kerinduan yang semakin membahagiakan

aku tidak lagi bergegas menyambut senyummu, meski letih

menyinari rumah dengan salam yang penuh kehangatan

detik-detik berulang, tetepi bagaiman kita bertemu di sore hari?

mata ku tertidur dengan tenang, tidak terganggu ujian

telingaku tidak lagi mendengar lantunan doa-doa mu

pendengaran ku tidak lagi menangkap suara adzan di angkasa

aku bertanya kepada dunia, Adakah yang mendengar suaraku?

tahukah kamu, kerinduanya pada surga atau cinyanya kepada langit?

apakah ini janji Allah?

apakah waktu pemenuhan janji sudah tiba?

hingga aku berlari seperti orang rindu dan kasmaran pada seruan?

apakah aku dapat bertemu pada kekasih disana?

bagaimana model pertemuannya?

di hadapan Allah di surga Firdaus yang dikucuri karunia?

apakah di rumah hakiki kalian berkumpul dan berlindung?

bila ya, selamat datang kematian dan kucuran darah

aku akan menemui kalian di sana, dan lenyaplah rumah kesengsaraan

ya, aku akan menemui kalian. Ini janju yang akan ditepati

kami diberi pahala dalam hari-hari yang berlalu dengan air mata dan ujian

kami berlindung dalam surga, hingga tak takut berpisah atau binasa

Semoga Allah ta’ala merahmati ustadz ita, Muhammad Kamaluddin A-Sananiri, dengan rahmat yang luas dan mempertemuakan kita dengannya bersama para nabi, shiddiqin, syuhada dan shalihin. Karena mereka sebaik-baik teman.

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum.. terima kasih ya untuk biografinya. Cukup Allah saja yang membalas. Biografi ini sangat diperlukan untuk tugas liqo'

    BalasHapus

Kibod Arabi