Selamat datang di SlendangWetan Institut, Blognya orang yang "sadar diri" !

2.17.2008

Atomisme logis Bertrand Russel

Segala puji bagi Allah, yang masih memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah filsafat kontemporer yang berjudul Konsep Atomisme Bertrand Russel, yang merupakan suatu makalah yang didalamnya dijelaskan konsep-konsep Bertrand Russel untuk melawan idealisme kaum Hegelian, yakni dengan analisa logiknya dan disertai sintesa logik, yang termuat dalam konsep Atomisme Logik.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan pada Nabi Muhammad SAW, yang telah memberikan petunjuk bagi kaumnya. Sehingga bisa terlepas dari zaman kegelapan menuju pencerahan.
Kepada Drs. Sunantri tak lupa penulis ucapkan banyak terimakasih atas bimbingan dan motivasinya. Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca pada umumnya dan penulis khususnya.

Surabaya, 9 Juni 2007

SlendangWetan R.S

BAB I
PENDAHULUAN

Atomisme Logik adalah suatu faham atau ajaran yang berpandangan bahwa bahasa itu dapat dipecah menjadi proposisi-proposisi atomik atau proposisi- proposisi elementer, melalui teknik analisa logik atau analisa bahasa. Setiap proposisi atomik atau proposisi elementer itu tadi mengacu pada atau mengungkapkan keperiadaan suatu fakta atomik yaitu bagian terkecil dari realitas. Dengan pandangan yang demikian itu, kaum Atomisme Logik bermaksud menunjukkan adanya hubungan yang mutlak antara bahasa dengan realitas.
Pada umumnya para peminat filsafat analitik mengenal konsep Atomisme Logik ini melalui dua kepustakaan. Sumber kepustakaan pertama adalah hasil karya Bertrand Russel yang bertujuan Logic and Knowledge. Karya tersebut merupakan kumpulan artikel yang pernah ditulis Russel dalam majalah The Monist pada 1918 dan 1919. sumber kepustakaan kedua adalah Tractatatus Logico-Philosophicus yang ditulis Ludwig Wittgenstein pada saat berkecamuknya Perang Dunia Pertama, yaitu antara 1914 sampai 1918.namun konsep Atomisme Logik dari Ludwig Wittgenstein itu baru dikenal pada 1921 dalam edisi bahasa jerman, Logisch Philosophische Abhandlung. Setahun kemudian barulah dipublikasikan dalam bahasa Inggris, dengan judul Tractatus Logico-Philosophicus.

BAB II
PEMBAHASAN
KONSEP ATOMISME LOGIK BERTRAND RUSSEL (1872-1970)

Karya Russel sangat berpengaruh dalam perkembangan filsafat pada abad dua puluh.Sumbangan paling pentingnya adalah logika matematika dan filsafat logika. Dengan Alfred North Whitehead ia menulis Principia Mathematika, yang di dalamnya dikemukakan sistem logika yang menghasilkan matematika, dengan demikian mereduksi matematika pada logika. Ia mengembangkan dua teori, Teori Bentuk dan Teori Diskripsi, dan memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan kebenaran, makna dan kepercayaan. Kuliah pertamanya mengenai Atomisme Logik dimulai dengan deklarasi bahwa “dunia memuat fakta-fakta, yang berwujud seperti apa yang kita pikirkan mengenai mereka.” Meskipun kemudian ia memodifikasi doktrinnya tentang Atomisme Logik, teori itu tetap menjadi dasar konsepsi mengenai realitas sepanjang sisa perkembangan filosofisnya. Dalam matematika disyaratkan bahwa setiap unit harus dikenali dan diketahui sebelum hubungannya dengan unit lain dipahami. Karena itu Russel mengemukakan pandangan atomis dan realis yang mengakui pluralitas segala sesuatu yang tidak bergantung pada pikiran dan secara internal tidak berhubungan seperti dalam sistem Hegelian.
Pada mulanya Russel mengikuti garis pemikiran Moore sebagai upaya untuk menentang pengaruh kaum Hegelian di Inggris dengan bertitik tolak pada akal sehat (common sense). Namun dalam perkembangan pemikiran selanjutnya, Russel mengambil jalan yang berbeda dengan jalan yang ditempuh Moore. Bagi Russel penggunaan bahasa biasa bagi maksud filsafat sebagaimana yang diinginkan Moore, tidaklah tepat. Sebab Russel tidak sekedar bermaksud mengarahkan teknik analisa yang diajukan oleh Moore itu untuk menentang ungkapan kosong dari kaum Hegelian, akan tetapi Russel dengan mencoba untuk membentuk filsafat yang bercorak ilmiah dengan cara “menerapkan metode ilmiah pada filsafat” oleh karena itu ia menegaskan:
“Dalam percobaan yang dilakukan secara serius, tidaklah selayaknya kita tempuh dengan menggunakan bahasa biasa, sebab susunan bahasa biasa itu selain buruk, juga bermakna ganda arti. Oleh karena itu saya bermaksud meyakinkan bahwa sikap bersikeras atau kepala batu untuk tetap menggunakan bahasa biasa dalam mengungkapkan pemikiran kita adalah penghalang besar bagi kemajuan filsafat.”
Oleh sebab itu tidak heran jika Russel menentukan titik tolak pemikirannya berdasarkan bahasa logika. Sebab ia berkeyakinan bahwa teknik analisa yang didasarkan pada bahasa logika itu dapat menjelaskan struktur bahasa dan struktur realitas.
Analisa logik ini mengandung pengertian, suatu upaya untuk mengajukan alasan a priori yang tepat bagi pernyataan, sedangkan sintesa logik berarti menentukan makna pernyataan atas dasar empirik. Dengan cara yang demikian, Russel menerapkan teknik analisa bahasa untuk memecahkan masalah filsafat. Namun Russel lebih mendahulukan analisa logik dari pada sintesa logik, karena teori yang melulu bersifat empirik (didasarkan atas fakta) tidak dapat menjangkau hal-hal yang bersifat universal. Ia memperkenalkan istilah data indera untuk hal-hal seperti warna, bau, kekerasan, kekasaran dan seterusnya dan mengundang kesadaran kita dengan sense datum a sensation (sensasi akan data indera). Ia membedakan antara apa yang disebutnya dengan pengetahuan dan pengenalan dan pengetahuan dan deskripsi. Ia berargumen bahwa kita tidak secara langsung berkenalan dengan obyek-obyek fisik tetapi menyimpulkan obyek-obyek seperti meja, pohon, anjing, rumah dan orang-orang dari data indera. Kesulitannya di sini ialah bagaimana inferensi dibuat dari data indera untuk sebuah entitas yang memenuhi penjelasan common sense tentang obyek fisik. Bagi Russel kebenaran bersifat logik dan matematik yang diungkapkan dalam analisa logik “meyakinkan kita untuk mengakui keperiadaan sifat-sifat ‘universal’yang tak terubahkan, padahal banyak teori yang bersifat empiric murni tidak dapat mempertanggungjawabkan hal seperti itu.”
Oleh karena itu Russel menganjurkan kita untuk mencari teori ilmu pengetahuan yang lain dari pada empirik murni. Pandangan yang demikian inilah agaknya membuat Russel lebih semangat untuk membentuk bahasa yang ideal bagi filsafat dengan didasarkan pada bentuk logika atau disebut dengan bahasa logika.
Hal ini tersimpul dalam ucapannya yang berbunyi: “Yang menyebabkan saya menamakan doktrin Atomisme Logik ialah karena atom-atom yang ingin saya peroleh sebagai hasil dari analisa terakhir bukan merupakan atom fisik, melainkan atom logik”.

1. Corak Logik (Logical Types)
Dengan bertitik pada bahasa logika, Russel bermaksud menentukan corak logik yang terkandung dalam suatu ungkapan. Russel mensinyalir adanya perbedaan corak logic melalui perbandingan antara dua kalimat yang struktur bahasanya sama, namun memiliki struktur logik yang berbeda. Penjelasan Russel mengenai suatu pengertian atau suatu istilah yang memiliki corak logik yang sama diungkapkannya melalui contoh berikut: A dan B hanya dapat dikatakan memikiki corak logic yang sama, jika unsur A mengandung kesesuaian dengan unsure B, sehingga akibat yang berlaku atau lawan bagi B dapat digantikan pada A. kita ambil suatu taswir, Socrates dan Aristoteles memiliki corak yang sama, sebab “Socrates adalah seorang filosof” dan “Aristoteles seorang filosof”, keduanya mengandung fakta yang sama (sama-sama filsuf).
Dua istilah yang dianggap memiliki corak logik yang sama bukan lantaran istilah tersebut dipandang menurut berbagai penafsiran yang mungkin dikenal bagi istilah itu. Tetapi yang lebih ditonjolkan disini adalah aspek logik yang didukung oleh fakta tertentu, sehingga kita dapat menarik kesimpulan yang logik pula bagi istilah yang diperbandingkan.

2. Prinsip Isomorfi (Kesepadanan)
Menurut pandangan Russel, seluruh pengetahuan hanya dapat difahami apabila diungkapkan dalam bentuk bahasa logika. Keyakinan itu diwujudkannya dalam karya yang disusunnya bersama A.N. Whitehead, yaitu Principia Mathematica. Dalam karya tersebut, kedua filosof ini memperlihatkan bahwa “konsep-konsep matematika dapat didefinisikan dengan menggunakan istilah logika saja, dan dalil matematik dapat dibuktikan dengan hanya menggunakan definisi dan prinsip logika”. Russel berkeyakinan, dengan memadukan prinsip matematik kedalam prinsip logika, ia mampu memecahkan persoalan filsafat. Kecenderungannya untuk menerapkan metode ilmiah dengan bertitik tolak pada prinsip logika pada bidang filsafat inilah yang merupakan inti dari konsep Atomisme Logik. Sebab upaya untuk mengungkapkan pengetahuan yang benar kedalam bentuk pernyataan yang benar atas dasar prinsip logika telah membawa Russel memasuki wilayah analisa bahasa.
Menurut Russel analisa bahasa yang benar itu dapat menghasilkan pengetahuan yang benar pula tentang dunia, karena unsur paling kecil dari bahasa (proposisi atomik) merupakan gambaran unsur paling kecil dari dunia fakta (fakta atomik) atau ada isomorfi (kesepadanan) antara unsur bahasa dan kenyataan.
Sehubungan dengan prinsip isomorfi adalah, kecenderungan pandangan Russel kearah metafisika. Sebab “mengatakan bahwa dunia dapat diasalkan kepada fakta atomik, jelas sekali merupakan suatu pendapat metafisik.” Inilah sesungguhnya tujuan utama yang terkandung dalam prinsip isomorfi itu. Metafisika yang terdapat dalam teori Russel ini merupakan suatu “Pluralisme radikal”, sebab realitas atau dunia fakta itu dipecah menjadi fakta atomik. Corak pandangan metafisik yang didasarkan atas analisa bahasa ini merupakan cirri khas yang menandai kaum Atomisme Logik, dan kelak akan diperkuat oleh Wittgenstein.

3. Proposisi Atomik dan Proposisi Majemuk
Pembahasan Russel mengenai Proposisi Atomik dan Proposisi majemuk berkaitan erat dengan upayanya untuk menjelaskan kesepadanan antara struktur bahasa dengan struktur realitas. Sebab bahasa yang dianggap sebagai keseluruhan dari proposisi atomik tidak hanya mengacu pada fakta atomik yang merupakan unsur yang membentuk realitas, tetapi bahasa itu juga merupakan “lahan” yang akan dikerjakan melalui teknik analisa logik. Bahasa, khususnya bahasa filsafat dapat mencerminkan realitas sejauh dapat dilakukan analisa logik yang diikuti dengan sintesa logik, sehingga diperoleh proposisi yang paling sederhana yang mengacu pada fakta yang paling sederhana pula, fakta atomik yaitu proposisi atomik. Setiap proposisi itu pada hakikatnya mengacu pada dua hal yaitu “data inderawi (particularia) yang merupakan hasil persepsi konkrit individual, dan sifat atau hubungan (universalia) dari data inderawi itu tadi.” Ia membedakan dua jenis proposisi, atomik dan majemuk, kebenaran atau kekeliruan proposisi majemuk ditentukan oleh kebenaran atau kekeliruan proposisi atomik yang kedalamnya proposisi tersebut dapat dianalisa, sementara kebenaran proposisi atomik ditentukan dengan merujuk pada fakta yang digambarkannya.
Menurut Russel, suatu proposisi (dapat bernilai benar atau salah) yang menjelaskan suatu fakta atomic itu dinamakan Proposisi atomik. Proposisi atomik ini merupakan bentuk proposisi yang paling sederhana, karena sama sekali tidak memuat unsur-unsur majemuk. Misalnya: x adalah yang (ini adalah putih) atau xRy (ini berdiri disamping itu). Setiap proposisi atomik itu mempunyai arti atau makna sendiri-sendiri yang terpisah satu sama lain. Dengan memberikan kata penghubung seperti “dan” atau “atau”, maka kita dapat membentuk suatu proposisi majemuk. Russel mengajukan contoh untuk menjelaskan proposisis atomik dan proposisi majemuk itu seperti berikut:
“Socrates adalah seorang warga Athena yang bijaksana. Ini merupakan proposisi majemuk yang terdiri dari dua fakta atomik, yaitu:
1. Socrates adalah seorang warga Athena, dan
2. Socrates adalah seorang yang bijaksana”.
Kedua proposisi atomik itu membentuk proposisi majemuk setelah dihubungkan dengan kata “yang”.
Menurut Russel , kebenaran atau ketidakbenaran suatu proposisi molekuler atau proposisi majemuk ini tergantung pada kebenaran atau ketidakbenaran proposisi atomik yang terdapat didalamnya. Atau dengan kata lain proposisi majemuk itu merupakan, “fungsi kebenaran” dari proposisi-proposisi atomik. Sebab tidak ada fakta majemuk yang ada halnya dengan fakta atomik.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Menurut Russel kerancuan bahasa filsafat itu timbul, lantaran kebanyakan filsuf menggunakan bahasa biasa untuk menyampaikan maksud-maksud filsafat. Padahal, menurut Russel, susunan bahasa biasa itu selain buruk juga didalamnya terdapat ambiguity. Oleh karena itu Russel menganjurkan penggunaan bahasa ideal bagi filsafat. Bahasa ideal yang dimaksudkan adalah, bahasa yang disusun atas dasar sistem logika. Bahasa filsafat yang bercorak demikian itu akan mempunyai makna yang terbatas, sekaligus terhindar dari kekaburan makna.
Penguasaan logika menjadi syarat penting sebelum kita melontarkan pernyataan-pernyataan falsafati.menurut Russel, tugas filsafat pada hakikatnya adalah analisa logik yang diikuti oleh sintesa logik. Baik dalam analisa menguraikan atau memilah-milahkan pernyataan maupun dalam sintesa memadukan unsur-unsur realitas senantiasa didasarkan atas logika, karena bahasa logika itu selalu mementingkan struktur logis yang dikandung dalam suatu ungkapan, tidak hanya pada struktur bahasa atau tatabahasanya semata. Suatu pernyataan yang diletakkan pada kerangka bahasa logika dapat diperiksa benar atau salahnya berdasarkan komponen-komponen yang yang membentuk pernyataan tersebut, ini dinamakan fungsi kebenaran (truth function). Bilamana kebenaran atau kesalahan dari suatu pernyataan yang komplek (pernyataan yang terdiri atas dua atau lebih pernyataan yang sederhana) dapat ditentukan sendiri berdasarkan kebenaran dan kesalahan dari unsur-unsur pernyataan tersebut, maka inilah yang dinamakan suatu fungsi kebenaran dari unsur-unsur pernyataan, untuk membimbing kita kearah cara berfilsafat yang tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. Filsafat Barat Dalam Abad XX, Jakarta: Gramedia, 1981

Collinson, Diane, Lima Puluh Filosof Dunia Yang Menggerakkan, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001

Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983

Mustansyir, Rizal, Filsafat Analitik, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995

Schilpp, P, The Philosophy of Bertrand Russel, Cambridge: Cambridge University Press, 1944
Wittgenstein, Ludwig, Tractatus Logico-Philosophicus, London: Routledge & Kegan Paul Ltd, 1963

4 komentar:

  1. mantap. jarang orang angkat tema ini. ini pula rencana tesis BA ku. bahkan beberapa dosen pun belum ngeh dengan hal ini. dikiranya bahasa agama itu bahasa dakwah dengan kelembutan atau bahasa ekstrim kelompok radikal.. sedih ya...

    BalasHapus
  2. sukron atas komennya..ya kalau bs qt sharing ilmu ya..

    BalasHapus
  3. bahasannya bagus tetapi ditambah contoh akan lebih bagus lagi. karena ini masuk filsafat bahasa yang aku ambil dalam mata kuliah semester 2 ini.

    BalasHapus

Kibod Arabi