Selamat datang di SlendangWetan Institut, Blognya orang yang "sadar diri" !

2.18.2008

Revolusi Ilmu Thomas Khun

A. Proses dan Sains yang normal
Sains yang normal adalah riset yang tegas berdasar atas satu atau lebih pencapaian ilmiah yang lalu, yang oleh masyarakat ilmiah pada suatu saat dinyatakan sebagai rujukan pada praktek selanjutnya.Atau menjelaaskan secara detail teori yang diterima, menerangkan banyak atau seluruh penerapannya yang berhasil dan membandingkan dengan eksprimen dan observasi langsung.Seperti, sebelum buku-buku menjadi populer pada abad ke19, banyak dari buku-buku klasik yang termasyhur tentang sains yang memenuhi fungsi yang serupa. Pencapaian yang memiliki dua karakteristik disebut paradigma yang erat kaitannya dengan sains yang normal yang bersama-sama mencakup dalil,teori, penerapan , dan istrumentasi yang akan menjadikan model-model, dari it lahirlah tradisi-tradisi tertntu dari riset ilmiah. Paradigma-paradigma yang jauh terspesialisasi sebagai ilustrasi, yang menstimulus untuk dipraktekkan dikemudian hari. Komitmen serta konsensus yang jelas serta yang dihasilkan merupakan prasyarat bagi sains yang norml, yaitu bagi penciptaan tradisi riset.
Pencapaian ilmiah yang kongkrit sebagai tempat komitmen profesional daripada konsep, dalil teori, dan acuan yang sangat vital. Dalam arti paradigma atau dialektika merupakan kesatuan fundamental dalam perkembangan sains, yang logisnya menjadi komponen-komponen atom yang berfungsi sebagai pengganti . Perolehan paradigma atau tipe riset yang langka sebagai indikator kematangan dalam perkembangan sains. Transformasi paradigma merupakan revulusi sains dan transisi yang berurutan dngan paradigma yang ssatu ke paradigma selanjutnya melalui revolusi suatu perkembangan sains yang telah matang. Definisi apapun dari ilmuwan yang mengecualikan, setidak-tidaknya harus lebih kreatif dan inovativ karena aliran yang lain dn penerusnya dari zaman modern akan mengecualikan juga.
Yang menjadi ciri-ciri pada tahap awal perkembangan sains adalah terciptanya alira-aliran baru. Tidak ada sejarah yang bis di interpretasi tampa adanya kumpulan teoritis dan metodologis yang saling berkolerasi lengkap yang harus adanya pemilihan, penilaian dan kritik. Karena jika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka harus dipasok dari luar oleh metafisika atau oleh sains yang lain serta oleh kejadian yang personal dan historis. Tidak mengherankan lagi, pada tahap-tahap awal perkembangan sains manapun dalam persepsi berbeda deretan masalah yang sama atau melukiskan dan menafsirkan gejala-gejala itu dengan cara yang berbeda, akan tetapi, perbedaan itu lambat laun akan semakin menghilang. Hilangnya perbedaan itu bisanya diawali dengan kemenangan salah satu aliran pra padigma, karena karesteristik kepercayaan dan persepsinya sendiri masih belum berubah informasi dan dalilnya yang relatif lemah. Agar dapat diterima sebagai paradigma sebuah teori harus lebih baik daripada saingannya, tetapi tidak perlu menerangkan semua fakta pada saingannya.

Agar paradigma itu dapat di terima oleh semua elemen dan melakukan pekerjaan itu lebih efektif harus ada semacam debat (sharing) dan juga memperjelas kepada para ilmuwan yang lain agar bisa yakin mereka berada di jalan yang benar-benar memotivasi para ilmuwan suatu pekerjaan yang lebih tepatdan belum banyak memahami hal tersebut serta lebih menonjol. Sehingga para ilmuwan dapat menyelidiki gejala yang lebih rinci dan menggunakannya lebih tekun, sistematis dan logis daripada yang di lakukan ilmuwan yang lain. Baik menyangkut pengumpulan fakta maupun pengutaraan teori agar lebih terarah (spektakuler-red), seperti yang di utarakan oleh Francis Bacon “kenaran lebih mudah muncul dari kesalahan ketimbang dari kekacauan”. Dan jika dalam perkembangan sains ke-alam-an seseorang atau kelompok mampu mengaplikasikan dari pempraktik generasi selanjutnya, maka secara berangsur-angsur aliran lama akan lenyap dengan sendirinya. Hilangnya alirang-aliran it sebagian di sebabkan pembelotan anggotanya klhghah pada paradigma yang baru. Walaupun pasti ada yang masih menganut pada salah satu pandangan yang lebih senior, hal ini akan dikeluarkan dari profesinya dan terlupakan karya-karya mereka.
Paradigma baru akan menyiratkan hal yang baru pula dan lebih kaku di bidangnya, mereka cenderung tetap, departemen filsafat akan melahirkan sain-sain khusus. Terkadang kesediaan menerima dan mentransformasikan kelompok yang awalnya hanya tertarik kepada studi alam kemudian menjadi profesi atau disiplin. Hal ini, berbeda dengan bidang-bidang yang lain seperti teknologi, hukum atau bidang yang lainnya. Karena yang menjadi prioritas yang utama berskala spesialisasi, pendirian masyarakat spesialis dan menuntut spesialisasi kurikulum seperti misalnya sebuah paradigma oleh kelompok. Ketika ilmuan percaya begitu saja tentang sebuah paradigma, ia tidak perlu lagi membangun kembali di bidangnya itu, hanya tetap dalam prinsip-prinsip pertama dan memperkuat setiap konsepyang diperkenalkan pertama kali. Ilmuan yang kreatif akan memulai risetnya di bagian atau yang ada dalam buku itu sehingga dapat memfokuskan pada aspek alami yang transparan dan isoterik, komunikerisetnya akan mulai berubah dengan cara evolusinya, tetapi prodak akhir modernnya menjadi realitas di masyarakat serta menyesalkan bagi semua orang. Sebaliknya, mereka hanya akan memberikan artikel-artikenya kepada rekan profesionalnya, orang yang mengerti dan paham tentang paradigma dan dapat terbukti dengan mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan isi artikel-artikel tersebut. Sebagai wahana komunikasi, risetlah garis-garis profesionalisasi kelonggaran sehingga orang awam dapat mengikuti kemajuan dengan belajar, membaca, memahami dan mengaplikasikannya.
Paradigma adalah model atau pola yang di terima dan aspek namanya it telah memungkinkan pengambilan paradigma itu tidak semua benar dengan pengertian yang biusa digunakan untuk mendevinisikan paradigma. Dalam penerapan yang baku, paradigma berfungsi memperbolehkan replikasi contoh yang masing-masing pada prinsipnya dapat di ganti. Disisi lain, sebuah sains paradigma menjadi objek replikasi. Akan tetapi, keputusan yudikatif yang terima dalam hukum tak tertulis menjadi objek bagi pengutaraan dan rincian lebih lanjut dalam keadaan yang baru atau lebih radikal. Sains yang normal terdiri atas perwujudan janji yang dicapai dengan memperluas pengetahuan dengan fakta-fakta yang oleh paradigma ditalarkan sebagai pembuka pikiran dengan mencocokkan fakta-fakta dengan prakiraan paradigma dengan artikulasi lebih lanjut tentang paradigma itu sendiri.
Ada tiga fokus yang normal bagi penyelidikan faktual, ketiganya itu tidak selamanya jelas.yang pertama adalah kelas fakta-fakta yang telah diperlihatkan oleh paradigma yang akan menyingkap sifat sesuatu, paradigma ini sangat bermanfaat untuk menetapkan kecermatan yang lebih tinggi maupuan dalam situasi yang variatif. Kelas kedua, biasa tetapi lebih kecil dari penetapan-penetapan fakta walaupun cenderung tampak kepentingan yang hakiki namun dapat di bandingkan secara langsung dengan paradigma.
Dan kelas ketiga, adalah menyerap seluruh kegiatan pengumpulan data sains yang normal. Kelas ini meliputi empiris yang dilaksanakan untuk mengartikulasikan teori paradigma untuk memecah- menyelesaikan ambiguitas yang masih belum terselesaikan. Upaya-upaya mengartikulasikan paradigma bagaimanapun tidak dibatasi dengan determinasi konstanta universal. Suatu paradigma merupakan parasyarat bagi bagi penemuan-penemuan hukum.
Adapun ciri-ciri yang paling menonjol dari masalah riset yang normal betapa sedikitnya masalah yang di tujukan untuk menghasilkan penemuan baru yang besar dan konseptual.ekprimen di tujukan untuk mengartikulasikan suatu paradigma dan juga bisa menyerupai ekplorasi terutama sering di gunakan dalam periode-periode dan dalam sains yang lebih cenderung berurusan dengan aspek kualitatif daripada kuantitatif dari regularitas alam. Sering suatu Paradigma yang di kembangkan bagi satu perangkat gejala ambigus dalam penerapannya dengan yang lain yang sangat erat kaitannya. Kemudian eksprimen-eksprimen itu perlu memilih diantara cara-cara alternatif menerapkan Paradigma pada bidang perhatian yang lainnya. Tujuan prakiraan itu ialah untuk memperhatikan penerapan baru dari Paradigma atau untuk meningkatkan ketepatan suatu penerapan yang di buat.
Target sains yang normal hanya hal-hal yang baru yang besar dan nyata – jika kegagalan mendekati hasil yang di antisipasi itu merupakan kegagalan sebagai ilmuwan. Semestinya para ilmuwan, hasil-hasil yan di peroleh dalam riset yang normal itu signifikan karena merupakan tambahan bagi ruang lingkup dan presisi yang dapat di terapkan oleh Paradigma. Mengantarkan masalah riset yang normal kepada kesimpulan adalah mencapai apa yang di antisipasi dengan cara baru dan juga memerlukan pemecahan segala jenis tekateki instrumental, konseptual dan matematis. Orang yang berhasil membuktikannya adalah seorang pakar pemecah tekateki dan tantangan itu merupakan bagian yang vital. Tekateki adalah kategori khusus dari masalah-masalah yang digunakan untuk menguji keliahaian atau skill dalam pemecahannya. Karakteristik-karakteristik oleh tekateki dalam masalah sains normal perlu adanya klasifikasi dan spesialisasi dengan yang lain, yang di dapatkan oleh masyarakat ilmiah. Paradigma ialah kreteria untuk memilih masalah-masalah yang di anggap sudah wajar dan memiliki alternatif. Masalah yang lain masih banyak yang sebelumnya menjadi standart di tolak, karena di anggap masuk dalam metafisika, masuk kepada disiplin yang lain atau terkadang terlalu rumit sehingga hasilnya tidak memadai pada alokasi waktu yang di gunakan. Masalah dalam suatu Paradigma bahkan dapat menyekat masyarakat tersebut dari yang esensial, aspek sosial yang tidak di bentuk tekateki karena tidak dapat di gunakan sebagai alat konseptual dan instrumental yang di sediakan oleh Paradigma tersebut. Salah satu alasan sains yang normal tampak maju begitu pesat seperti para pempraktik memfokuskan perhatian mereka kepada masalah yang tidak dapat di pecahkan karena minimnya pengetahuan dan kecerdasan.
Masalah-masalah sains yang normal merupakan tekateki dalam pengertian.seseorang dapat tertarik pada sains karena hasrat untuk berguna untuk mengeksplorasi wilayah baru, harapan untuk menemukan tatanan dan dorongan untuk menguji pengetahuan yang mapan, motif-motif ini disertai juga untuk membantu mengatasi masalah-masalah tertentu yang artinya akan menyibukkan aktifitas mereka. Individu yang terlibat dalam riset yang normal tidak pernah menggerjakan yang manapun dari hal diatas. Yang kemudian menentang keyakinan bahwa ia pun cukup terampil dalam memecahkan tekateki yang belum di pecahkan oleh siapa pun. Diantara para tokoh yang besar banyak yang telah mencurahkan seluruh perhatian profesionalnya pada tekateki yang menentangnya. Setiap bidang spesialisasi tidak menyajikan yang lain untuk dikerjakan, suatu kenyataan yang membuatnya optimis dari pada jenis kecanduan yang pantas. Kesejajaran antara tekataki dan masalah sains yang normal akan di klasifikasikan sebagai pemecahkannya.juga kaidah-kaidah yang membatasi sifat pemecahan yang dapat diterima maupun langkah-langkah untuk memperolehnya.
B. Keunggulan Paradigma
Untuk menemukan hubungan antara kaidah, Paradigma dan sains yang normal perlu di perhatikan terlebih dahulu bagaimana histori yang mengisolasai tempat-tempat tertentu dari kometmen yang baru di jadikan kaidah-kaidah yang di terima. Penyelidikan histori yang cermat terhadap suatu spesialitaspada masa tertentu menyingkapkan seperangkat keterangan yang berulang-ulang yang di kuasai standart tentang berbagai teori dalam penerapan konseptual, observasional dan instrumental. Tentu saja selain itu, sejarawan akan menemukan daerah penumbrah yang ditempati pencapaian-pencapaian yang statusnya masih di ragukan. Meskipun kadang-kadang terdapat ambiguitas Paradigma-Paradigma masyarakat sains yang matang dapat di tentukan dengan relatif mudah. Tujuan laporan-laporan riset untuk menemukan unsur-unsur yang dapat di isolasi secara gamblang atau tersirat yang oleh masyarakat kemungkinan di ringkas dari Paradigma yang lebih global dan di gunakan sebagai kaidah-kaidah dalam riset. Mencari kaidah-kaidah lebih sukar ketimbang mencari Paradigma, diantara generalisasi yang di gunakan untuk melukiskan kepercayaan bersama dari masyarakat itu akan menimbulkan masalah. Namun yang lainnya, termasuk yang digunakan sebagai ilustrasi akan tampak begitu kuat. Dan jika perpaduan tradisi riset di pahami sebagai aspek kaidah-kaidah, harus ada rincian-rincian tentang dasar bersama dalam bidan yang sesuai. Akibatna, kumpulan pencarian kaidah yang berwenang membentuk tradisi riset normal tertentu menjadi sumber frustasi yan radik dan berkesinambungan.
Para ilmuwan sepakat bahwa para tokoh-tokoh terdahulu (seperti New Ton-red) telah menghasilkan pemecahan yang tampaknya permanen bagi sekelompok masalah penting. Namun kadang-kadang tanpa menyadarinya karakteristik-karakteristik abstrak tertentu yang menjadikan pemecahan itu permanen. Artinya, mereka sepakat dalam identifikasi mereka tentang paradigma tanpa sepakat dalam bahkan berupaya menghasilkan intepretasi dan rasionalisasi yang bulat tentang Paradigma. Riset yang normal dapat di tentukan sebagian oleh pemeriksaan langsung terhadap suatu Paradigma. Dan suatu proses sering di bantu tetapi tidak bergantung pada perumusan kaidah-kaidah asumsi. Suatu jenis yang sama dapat berlaku dalam berbagai teknik dan masalah riset yang timbul dalam tradisi sains yang normal. Apa yang menjadi kesamaan diantara mereka bukanlah menjadi hal yang dapat memenuhi suatu perankat kaidah dan asumsi yang jelas atau bahkan yang dapat di temukan seluruhnya, yaitu perangkat yang memberi karakter kepada tradisi yang menyebabkan suatu tradisi mempunyai tempat dalam pikiran ilmiah. Akan tetapi mereka bisa mempunyai pertalian karena kesamaan dan menjadi model bagi salahsatu bagian dari sekelompok sains yang oleh masyarakat telah diakui sebagai pencapaian-pencapaiannya yang telah mantap. Paradigma-Paradigma dapat menentukan sains yang normal tanpa adanya campurtangan kaidah-kaidah yang di temukan.
C. Anomasi dan histori Sains
Penemuan-penemuan bukanlah peristiwa asing, melainkan epesode yang di perluas dengan struktur yang terluang secara teratur. Penemuan di awali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan yang di dorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal yang kemudian dengan eksplorasi yang di perluas pada wilayah anomali dan akan berakhir jika teori paradigma telah di sesuaikan. Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut pada penyesuaian tambahan teori yang juga erat sekali hubungannya antara faktual dengan teoritis dalam penemuan ilmiah.
D. Krisis, munculnya teori Sains dan tanggapan
Setelah menemukan argumentasi bahwa dalam sains itu fakta dan teori, penemuan dan penciptaan tidak berbeda menurut kategori serta secara permanen dapat diantisipasi adanya lingkup. Kesadaran akan anomali memainkan peran dalam munculnya jenis-jenis gejala yang baru, maka tidak akan mengejutkan bahwa kesadaran yang serupa, tetapi lebih mendalam. Merupakan prasyarat bagi semua perubahan teori yang dapat diterima.
Sesudah mencapai status paradigma, teori ssains hanya di nyatakan tidak sahih jika ada calon alternatif untuk menggantikannya. Namun, tidak ada proses yang telah di singkapkan oleh study historis tentang perkembangan sains yang mirip dengan steriotipe pemalsual yang metodologis dengan perbandingan lansung denan alam. Tindakan mempertimbangkan yang mengakibatkan para ilmuwan menolak teori yang semula di terima, karena berdasarkan pada perbandingan teori dengan dunia. Menolak paradigma sekaligus merupakan putusan untuk menerima yang lain dan pertimbangan yang mengakibatkan putusan itu melibatkan perbandingan paradigma dengan alam ataupun satu sama yang lain. Dan alasan yang kedua, untuk meragukan bahwa para ilmuwan menolak paradigma karena dihadapkan pada anomali-anomali atau penggantinya. Alasan bagi keraguan semata-mata faktual, artinya alasan itu sendiri menggantikan teori epistemologi yang berlaku dan hal ini dapat menciptakan krisis atau memperkuat krisis yang benar-benar sudah ada.
E. Sifat, perlunya revolusi dan dampak Sains
Revolusi sains sebagai epesode perkembangan nonkomulatif yang di dalamnya paradigma yang lama di ganti seluruhnya (sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan). Revolusi politik di bawa oleh kesadaran yang semakin tumbuh, yang sering terbatas pada suatu segmen dari masyarakat politik, bahwa lembaga-lembaga yang tidak lagi memadai untuk menghadapi masala-masalah yang di kemukakan oleh lingkungan yang sebagian di ciptakan oleh lembaga-lembaga itu. revolusi sains di bawa oleh kesadaran yang semakin tumbuh yang sering terbatas pada subdevisi yang sempit dari masyarakat sains, bahwa paradigma yang ada tidak lagi berfungsi secara memadai dalam eksplorasi suatu aspek dari alam. Perkembangan politik maupun sains, kesadaran akan adanya fungsi yang dapat menyebabkan krisis merupakan prasyarat bagi revolusi.
Revolusi politik bertujuan mengubah lembaga-lembaga politik itu sendiri. oleh sebab itu, keberhasilannya memerlukan pelepasan sebagian dari perangkat lembaga untuk di ganti oleh yang lain, dan masyarakat tidak sepenuhnya di perintah oleh lembaga tersebut. Mula-mula hanya krisis yang mengurangi lembaga politik, seperti menurunnya peran paradigma. Hal ini bertujuan berdemonstrasikan bahwa study historis tentang perubahan paradigma menyingkap karakteristik yang mirip dalam evolusi sains. Seperti pemulihan diantara lembaga-lembaga politik yang berkompetisi, pemilihan diantara pemerintah paradigma yang bersaingan ternyata merupakan pemilihan diantara modus-modus kehidupan masyarakat yang bertentanan. Karena yang memiliki karakter itu, pemilihannya tidak tidak dapat di tentukan dengan prosedur evaluatif yan menjadi karakteristik yang normal, sebab tergantung pada paradigma tertentu dan paradigma itu sedang di permasalahkan sebagaimana mestinya. Masuk pada debat paradigma maka perannya perlu sekuler untuk membela paradigma itu, sekuleritas yang dilibatkan itu menyebabkan argumen-argumen salah bahkan tidak berpengaruh.
F. Tak tampaknya revolusi dan pemecahannya
Tentu saja para ilmuan bukan satu-satunya kelompok yang melihat masalah disekelilingnya berkembang terus kearah keadaan sekarang yang menguntungkan. Motivasi untuk menulis sejarah kebelakang itu terdapat dimana-mana dan kekal. Akan tetapi, para ilmuan lebih terpengaruh oleh godaan untuk menulis. Mengulang sejarah karena hasil riset sains tidak menunjukkan kebergantungan yang nyata pada konteks historis dari ingkuiri, kecuali pada krisis dan revolusi karena kedudukan kontenporen ilmuan tampaknya begitu kokoh. Penurunan nilai kenyataan sejarah secara mendalam, fungsional, berakal dalam ideologi sains dan profesi yang sama yang memberikan nilai tertinggi pada rincian kenyataan jenis yang lain. Jiwa yang tidak historis pada masyarakat sains ketika ia mengatakan, rugilah sains yang buruk melupakan pendiriannya, namun ia tidak sepenuhnya benar karena sains kegiatan profesional lainmasih membutuhkan pahlawan sendiri serta melestarikan nama-nama mereka.
Hasilnya adalah kecenderungan yang terus-menerus membuat sejarah sains tampil lurus atau komulativ, bahkan mempengaruhi para ilmuan yang melihat kebelakang pada riset mereka sendiri.Sebenarnya masalah itu tampaknya tefikirkan oleh kebersamaan dan tata cara pemecahannya tampak tidak terfikirkan karya kreatifnya sendiri tidak terselesaikan. Hasilnya adalah reorientasi kearah bidang baru yang mengajari para ahli untuk menyajikan pertanyaan dan mengambil kesimpulan dari data-data lama.
Merekalah yang mula-mula belajar melihat sains dan dunia dengan cara yang berbeda dan kemampuan mereka untuk membuat transisi itu dimudahkan oleh keadaan yang tidak bisa anggota lain andil dalam proesinya.Tampak berubah degan sungguh-sungguh difokuskan pada masalah-masalah yang merangsang krisis dan kecenderungannya orang yang berbeda serta kemampuan untuk membuat transisi dimudahkan oleh dua keadaan yang diluar keadaan yang diluar kebiasaan bagi kebanyakan anggota lain dari profesinya. Biasanya mereka relatif muda atau baru dlam bidang yang dilanda krisis praktek dan kurang mendalam pandangannya pada dunia dan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh paradigma lama. Pekerjaan riset adalah pemecah teka-teki bukan untuk menguji paradigma. Sains berbeda dengan teka-teki dalam pemecahannya, situasi pengujian tidak pernah terjadi semata-mata karena perbandingan suatu paradigma dan alam akan tetapi terjadi karena adanya konpetesi diantara dua paradigma untuk memperebutkan dalam masyarakat sains.
Perubahan-perubahan paradigma menyebabkan para ilmuan berbeda dalam memandang dua riset. Salah satu jalan mereka kejalan itu melalui apayang mereka lihat.Prototipe-prototipe transformasi dunia ilmuan yang elementer seperti inilah yang menyebabkan demonstrasi perubahan dalam gestan visual yang dikenal sugestik. Setelah transformasi, meskipun biasanya bertahap dan hampir semuanya tidak dapat dibalikkan, nampak hal yang umum menyertai latihan sains. Eksprimen-eksprimen gestalt menggambarkan sifat transformasi persepsi tidak harus menerangkan peran paradigma atau eksprimen yang sebeumnya diasimilasikan dalam proses persepsi. Akan tetapi, hal itu terdapat kumpulan pustaka dan psikologi yang kaya.Subyek eksprimen yang mengen akan kaca mata yang dilengkapi lensa pembalik, mula-mula melihat dunia terbalik keatas atau bahkan pada permulaanya berfungsi seperti fungsi yang lebih dilatihkan tampa kaca mata yang akibatnya disorientasi yang ekstrim krisis personal yang gawat.
G. Kemajuan Revolusi Dan Pasca Wacana –1969
Selama periode paradigma, banyak aliran yang bersaingan, bukti kemajuan, kecuali didalam aliran-aliran sangat sukar ditemukan.Dalam periode revolusi ketika prinsip fundamental suatu bidang dipermasalahkan, keraguan tentang kemungkinan sinambungnya kemajuan diantara paradigma yang menentang ada yang diterima. Implikasinya, kemajuan itu hanya tampak nyata serta pasti dalam periode sains yang normal. Namun, selama periode itu masyarakat sains tidak dapat memandang buah karyanya dengan cara yang lain. Jika hanya kewenangan, dan khususnya jika kewenangan nonprofesional yang menjadi wasit dalam perdebatan paradigma maka hasil perdebatan itu bisa tetap revolusi tetapi bukan revolusi sains. Dasar eksistensi sains bergantung pada pemberian kekuasaan untuk memilih paradigma didalam anggota-anggota masyarakat jenis khususnya.
Setdak-tidaknya secara filosofis, arti kedua dari paradigma merupakan sumber utama berbagai kontaversi dan kesalapahaman.yang pertama berargumentasi bahwa, istilah seperti subyektif dan naluriah tidak tepat di terapkan pada komponen-komponen pengetahuan. Walaupun pengetahuan seperti itu, tanpa perubahan yang esensial, bukan subyek bagi parafrase dari segi kaidah dan kreteria, walaupun ia sistematis. Dalam kesimpulan yang lain mendesak agar orang-orang yang mempertahankan pandangan yang tidak dapat dibandingkan dianggap sebagai anggota-anggota masyarakat bahasa yang berbeda.
Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota seluruh masyarakat sains dan sebaliknya, masyarakat sains terdiri atas orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama. Masyarakat sains dapat dan seharusnya diisolasi tanpa terlebih dahulu minta bantuan kepada paradigma; kemudian dapat ditemukan dengan meneliti perilaku anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. Anggota senua masyarakat sains termasuk aliran-aliran dari periode praparadigma, memiliki jenis-jenis unsur yan secara kolektif yang berlebel “suatu paradigma”. Anggota-anggota masyarakat yang berbeda kadang-kadang memilih alat yang berbeda dan mengkritik pilihan orang lain. Dan revolusi adalah jenis khusus perubahan yang melibatkan jenis tertentu rekontruksi kometment-kometment kelompok (Paradigma dan struktur masyarakat). Dan masih banyak karakteristik-karakteristik secara esensial seperti paradigma sebagai konstelasi kometmen kelompok, paradigma dan contoh bersama, pengetahuan diam-diam dan naluri, eksemplar, kemustahilan dengan revolusi, revolusi dan relativisme dan sifat sains.

BAB III
Penutup
Kesimpulan
Kesimpulannya dari semua yang kami bahas adalah peran bagi sejarah dalam konteks paradigma sains dan revolusinya. Bapak yang mampu mendobrak segala paradigma sains adalah Thomas S. Kuhn. Dan dalam perjuangannya untuk mengaplikasikan segala bentuk kemajuan tidak lepas dari tantangan yang sangatlat urgen dan polemik.
A. Saran
Dan saran kami kepada semua lapisan, kami adalah manusia yang di beri akal pikiran dan nurani (hayawanun Natiq) yang semestinya belajar dan tak pernah mengenal lelah dan putus asa agar menjadi makhluk pilihan Tuhan yang Maha Agung. Kita sebagai makhluk sosial harus mampu berusaha dan berdoa untuk mau dan ada refleksifitasnurani untuk mengubah nasib yang lebih baik dengan cara trasformasi segala aspek kehidupan tanpa harus menyepelekan Tuhan sebagai Center dari segala permasalahan dan penyembahan.
Jika dalam tulisan kami terdapat tulisan dan tatabahas yang salah atau kurang bersahabat mohon dimaklumi karena kami hanyalah manusia yang tidak akan pernah lepas sampai kapanpun dari yang namanya salah dan lupa (Dosa). Selanjutnya kami banyak ucapkan terima kasih kepada segenap yang telah ikut serta membantu meminimalisir kesulitan kami khususnya dalam pembuatan makalah ini.
Wallahul muaffiq Ila aqwamitthoriq ……….!!!!

DAFTAR PUTAKA

_____ Henry D. Aiken, Abab Ideologi.Bentang, Jakarta 2002.
_____ AS. Hikam, Demokrasi dan Civil Society,Pustaka Pelajar 2001
_____ Tiga Narasi Agung, Bentang 2003
_____ Bertrand Russell, Sejarah Filsafat Barat. Pustaka pelajar, 2002
_____ Peterl. Berger, Langit Suci (Agama sebagai kreatifitas Sosial). LP3S Jakarta 1991
_____ Prof. DR. K. Berten S. Sejarah Filsafat Yunani; dari Thales ke Aristoteles. Kanisius 2001
_____ Thomas S. Kuhn The structure of Scientific Revolution (Peran Paradigma dalam Revolusi Sains). Rosda, Bandung 2000

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kibod Arabi